Senin, 18 Mei 2026

Berita Internasional

Hubungan AS-Jerman Memanas: Kecaman Keras Trump Usai Merz Sebut Washington 'Dipermalukan' Iran

Presiden Donald Trump kecam Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait kritik perang Iran. Ketegangan memuncak saat Merz soroti kegagalan diplomasi AS.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
tribunnews
Presiden Amerika Serikat Donald Trump 

Ringkasan Berita:
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman keras terhadap Kanselir Jerman, Friedrich Merz, usai mengkritik serangan AS-Israel terhadap Iran.
  • Perseteruan ini semakin memperpanjang daftar ketegangan antara Trump dengan sekutu Eropa dan NATO yang enggan memberikan dukungan penuh terhadap kampanye militer di Iran.
  • Sebelumnya, Merz menyoroti kegagalan diplomasi di mana Iran menolak bertemu dengan pejabat AS sebelum blokade pelabuhan dicabut.

TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluncurkan serangan verbal terhadap Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyusul kritik terbuka Berlin atas kampanye militer Washington dan Israel terhadap Iran. 

Perseteruan ini menandai babak baru ketegangan antara Gedung Putih dengan sekutu utama NATO di Eropa.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menuding Merz meremehkan ancaman keamanan global terkait potensi pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.

 Langkah militer AS-Israel saat ini, menurut Trump, adalah kebutuhan mendesak untuk mencegah bencana nuklir.

“Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa jika Iran memiliki senjata nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan! Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera,” tulis Trump, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (28/4/2026).

Sebut Diplomasi AS 'Dipermalukan'

Kecaman Trump muncul setelah Friedrich Merz melontarkan penilaian blak-blakan terhadap strategi luar negeri AS. Merz secara tegas menyebut Washington tengah "dipermalukan" oleh taktik negosiasi Teheran, di mana Iran menolak bertemu pejabat AS sebelum blokade pelabuhan dicabut.

Merz juga memperingatkan bahaya terjebak dalam perang yang tidak memiliki strategi keluar (exit strategy), belajar dari pengalaman pahit di masa lalu.

“Masalah dengan konflik seperti ini adalah Anda tidak hanya harus masuk, Anda juga harus keluar lagi. Kita telah melihat hal itu dengan sangat menyakitkan di Afghanistan selama 20 tahun. Kita juga melihatnya di Irak,” tegas Merz.

Baca juga: Uni Emirat Arab Resmi Hengkang dari OPEC: Retaknya Dominasi Arab Saudi di Pasar Minyak Dunia

Dampak Ekonomi dan Energi di Eropa

Kritik tajam Merz ini merupakan pergeseran signifikan dari sikap Jerman yang sebelumnya sangat pro-Israel. Sebagai salah satu pemasok senjata terbesar bagi Israel, Jerman kini mulai merasakan tekanan domestik akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh perang tersebut.

Ekonomi Jerman saat ini tengah berjuang pulih dari dampak pandemi dan invasi Rusia ke Ukraina. Perang AS-Israel di Iran dianggap memperburuk krisis energi di daratan Eropa, yang membuat dukungan Berlin terhadap kampanye militer Trump mulai luntur.

Kontradiksi Klaim Intelijen

Meski Trump bersikeras bahwa invasi diperlukan demi keamanan nuklir, internal pemerintahannya menunjukkan ketidaksinkronan data. Kepala Intelijen AS, Tulsi Gabbard, sebelumnya menyatakan kepada Kongres bahwa Teheran sebenarnya tidak sedang membangun senjata nuklir.

Selain itu, klaim Trump saat ini bertolak belakang dengan pernyataannya pada tahun lalu, di mana ia sempat membanggakan bahwa serangan AS pada Juni 2025 telah berhasil "menghancurkan" total program nuklir Iran.

Ketegangan ini memperluas daftar perselisihan Trump dengan negara-negara Eropa setelah sebelumnya ia mengancam akan memutus perdagangan dengan Spanyol atas isu serupa. (a naufal/kpc)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved