Jumat, 5 Juni 2026

Kebumen

Kisah Ponpes Somalangu Kebumen, Pesantren Tertua di Asia Tenggara

Pondok Pesantren Al Khafi Somalangu di Kabupaten Kebumen yang didirikan pada tahun 1475 Masehi diakui sebagai pesantren tertua di Asia Tenggara

Tayang:
Penulis: Agus Iswadi | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Banyumas/Agus Iswadi
SUASANA PONPES TERTUA: Sejumlah santri saat berjalan melintasi kawasan Pondok Pesantren Al Khafi Somalangu yang terletak di Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Minggu (8/3/2026). Pesantren yang didirikan oleh ulama keturunan Irak, Syekh As Sayid Abdul Khafi Al-Hasani, pada tahun 1475 Masehi ini telah diakui secara resmi oleh PBNU sebagai pondok pesantren tertua di Asia Tenggara. 

Ringkasan Berita:
  • Ponpes Al Khafi Somalangu di Desa Sumberadi, Kebumen, didirikan pada tahun 1475 M oleh ulama asal Irak, Syekh As Sayid Abdul Khafi Al-Hasani.
  • Pesantren yang kini dipimpin generasi ke-16 ini diakui secara resmi oleh PBNU sebagai pondok pesantren tertua di Indonesia dan Asia Tenggara.
  • Selain mendidik ribuan santri untuk melek teknologi kekinian seperti AI, pesantren ini juga menyimpan jejak kepahlawanan melawan penjajah Belanda.

TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Penyebaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah pesisir selatan, tidak lepas dari peran besar dan dedikasi seorang ulama bernama Syekh As Sayid Abdul Khafi Al-Hasani.

Ulama keturunan Irak tersebut menjadi tokoh sentral yang turut andil dalam penyebaran ajaran Islam pada zamannya di Jawa bagian selatan, tepatnya di wilayah Kabupaten Kebumen.

Di Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen, hingga kini masih eksis sebuah pondok pesantren bersejarah yang didirikan oleh beliau, yakni Ponpes Al Khafi Somalangu.

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadan 2026 Kabupaten Kebumen, Senin 9 Maret 2026

Pesantren ini diakui sebagai ponpes tertua di wilayah Asia Tenggara. Saat ini, kepemimpinan Ponpes Al Khafi Somalangu diteruskan oleh generasi ke-16, yakni KH Afifuddin Chanif Al-Hasani.

Pengasuh sekaligus putra dari pimpinan Ponpes Al Khafi Somalangu, Muhammad Fauhan, menceritakan bahwa pendiri ponpes ini sempat menetap di Yaman untuk berguru kepada seorang ulama besar. Dari titah gurunya di Yaman itulah, perjalanan dakwah Syekh Abdul Khafi di tanah Jawa bermula.

"Oleh gurunya, beliau disuruh berdakwah ke Pulau Jawa waktu itu untuk menyebarkan ajaran Islam," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Minggu (8/3/2026).

Dakwah Jalur Selatan

Berbeda dengan para ulama lainnya (seperti Wali Songo) yang mayoritas memulai dakwah dari wilayah pesisir utara Jawa, perjalanan Syekh Abdul Khafi justru dimulai dari pantai selatan. Beliau diketahui mendarat di Karangbolong pada era 1470-an.

Begitu tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Kebumen tersebut, Syekh Abdul Khafi tidak langsung mendirikan pondok pesantren. Ia terlebih dahulu memberikan penanda pada sebuah lokasi yang nantinya akan dibangun masjid sebagai sentral ibadah.

"Saat itu beliau bertolak (sementara) dari Kebumen ke Surabaya untuk membantu dakwah Sunan Ampel," terang pria yang akrab disapa Gus Fauhan tersebut.

Utamakan Bangun Masjid

Setelah misinya dirasa cukup, Syekh Abdul Khafi kemudian kembali ke Kebumen yang kala itu masyarakatnya masih banyak memeluk agama dan kepercayaan lain. Menurut Gus Fauhan, ada keteladanan kuat dari sosok pendiri pesantren tersebut dalam menyebarkan Islam.

"Ketika mendirikan Somalangu (ponpes), beliau tidak mendirikan rumah dulu, tapi mendirikan masjid dulu. Jadi lebih mengutamakan kepentingan umum daripada pribadi," ungkapnya.

Bangunan masjid peninggalan tersebut bahkan masih dipertahankan keasliannya hingga kini, meski telah mengalami beberapa kali renovasi pemeliharaan. Di dalam masjid itu, terdapat dua prasasti berupa batu zamrud Siberia yang memberikan informasi valid mengenai tahun berdirinya pesantren.

"Tempat ibadah ataupun masjid sebagai pusat kegiatan itu yang penting nyaman digunakan, tidak perlu bermewah-mewah. Tapi masyarakat di sekitarnya bisa ikut menikmati kesejahteraan dari kegiatan keagamaan di masjid itu," paparnya menjabarkan pesan luhur sang pendiri.

Sertifikasi Tertua PBNU

Lebih lanjut, prasasti kuno di dalam masjid itu juga telah diteliti secara mendalam oleh lembaga terkait dan berhasil mendapatkan sertifikasi resmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"Prasasti pertama itu menunjukkan tahun berdirinya, yaitu tahun 1475 Masehi. Kalau dikonversi ke tahun Hijriah, tulisannya 879 Hijriah, tepatnya 25 Syakban. Itu adalah tahun resmi berdirinya Ponpes Al Khafi," jelas Gus Fauhan memastikan usianya yang mencapai lebih dari lima abad.

Adaptasi Teknologi Modern

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved