Puasa Ramadan
Kisah Silvy Mutiari: Transpuan di Semarang yang Mengabdi Jadi Guru Ngaji Gratis Sejak 2019
Silvy Mutiari, seorang transpuan di Semarang, dedikasikan hidupnya menjadi guru ngaji gratis bagi anak-anak dan ibu-ibu. Opsi Judul
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Suara bacaan huruf hijaiyah melantun pelan di balik sebuah rumah berlantai dua di sudut kampung Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang.
- Di hadapan anak-anak, ada seorang transgender perempuan (transpuan), Silvy Mutiari (46) yang memandu anak-anak itu untuk secara bergantian belajar mengaji.
- Silvy menyebut, orangtua mereka meminta dirinya sebagai guru mengaji kemungkinan karena latar belakang dirinya yang dari kecil sudah pandai membaca Alquran.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Di tengah hiruk-pikuk Kota Semarang yang dikenal sebagai kota toleransi, terselip kisah inspiratif dari sudut Kampung Randusari, Semarang Selatan.
Silvy Mutiari (46), seorang transpuan, mendedikasikan hidupnya untuk meneruskan warisan sang ibu: menjadi guru mengaji bagi anak-anak dan ibu-ibu di lingkungannya.
Tujuh tahun terakhir, ruang tamu rumah Silvy yang dipenuhi alat rias dan almari baju pengantin—penanda profesinya sebagai penata rias dan MC—berubah fungsi menjadi surau kecil setiap harinya.
Dengan sabar, Silvy yang mengenakan jilbab dan setelan busana muslimah mengoreksi satu per satu bacaan huruf hijaiyah dan harakat para santri ciliknya.
"Orang tua mereka sendiri yang meminta saya mengajari mengaji. Saat ini ada tujuh anak," ujar Silvy saat ditemui di kediamannya, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: Bawakan Tari Harmoni Warak, Mahasiswa UPGRIS Tampil Memukau di ajang internasional VIBRANCE VIT 2026
Melawan Stigma dengan Keikhlasan
Keputusan warga memercayakan pendidikan agama anak-anak mereka kepada Silvy bukan tanpa alasan.
Silvy lahir dari keluarga yang taat; ibunya adalah guru ngaji legendaris di kampung tersebut sejak 2005.
Setelah sang ibu wafat, Silvy merasa terpanggil untuk melanjutkan tongkat estafet tersebut sejak tahun 2019.
Bagi Silvy, mengajar mengaji adalah "benteng" spiritual. Ia menjalankan pengabdian ini secara gratis tanpa memungut biaya sepeser pun.
"Ini pengingat untuk diri saya sendiri. Ketika ada godaan berbuat negatif, saya ingat bahwa saya ini guru ngaji, masa berbuat begitu," ungkapnya dengan senyum tipis.
Fleksibilitas di Bulan Ramadhan
Memasuki bulan suci Ramadhan, jadwal mengaji yang biasanya dilakukan sore hari digeser menjadi pagi hari.
Hal ini merupakan kesepakatan bersama dengan para murid agar Silvy bisa menyambung hidup dengan berjualan takjil di sore hari, mengingat pesanan rias (makeup) dan jasa MC cenderung sepi saat puasa.
Selain anak-anak, Silvy juga dipercaya mengajar mengaji kelompok ibu-ibu setempat hingga memimpin doa dalam acara tahlilan atau yasinan berdasarkan permintaan warga.
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Banyumas, Minggu 22 Februari 2026
| Debt Collector Kepung Mobil di Jalur Bandara Semarang, Penumpang Satu Keluarga Panik |
|
|---|
| Bawakan Tari Harmoni Warak, Mahasiswa UPGRIS Tampil Memukau di ajang internasional VIBRANCE VIT 2026 |
|
|---|
| Dipenuhi Lampion, Jadwal Ramadan Light Festival Purbalingga Sampai Kapan |
|
|---|
| Jadwal Imsak dan Buka Puasa Banyumas, Minggu 22 Februari 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/transpuan-transgender-ngaji.jpg)