Minggu, 10 Mei 2026

Banyumas

Eks Penjual Buku Jadi Pelukis, Ki Mugo Laris Manis di Banyumas

Kisah Ki Mugo Sumedi (65), pelukis di Simpang Glempang Purwokerto. Mantan penjual buku keliling kini jadi langganan pejabat, tarif mulai Rp 300 ribu.

Tayang:
Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad
Realis: Ki Mugo Sumedi (65) tengah menyelesaikan pesanan lukisan di galeri kecilnya, Simpang Pasar Glempang, Purwokerto, Selasa (27/1/2026). Mantan penjual buku keliling ini kini menjadi pelukis langganan pejabat di Banyumas. 

Ringkasan Berita:
  • Ki Mugo Sumedi (65), seorang pelukis beraliran realis di Simpang Pasar Glempang, Purwokerto, menarik perhatian pengguna jalan dengan karya lukisannya yang beragam.
  • Sebelum sukses melukis, Ki Mugo pernah bekerja sebagai penjual buku keliling selama 12 tahun dan merintis karier lukis sebagai seniman di depan Universitas Trisakti Jakarta (1990-2016).
  • Jasa lukis wajahnya laris manis dipesan berbagai kalangan, termasuk pejabat Banyumas Raya, dengan tarif mulai Rp 300 ribu hingga jutaan rupiah.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO – Di tengah hiruk-pikuk Simpang Pasar Glempang, Jalan Prof. DR. HR Boenyamin, Purwokerto, sebuah toko kecil seolah menjadi oase seni.

Deretan lukisan tokoh dunia seperti Albert Einstein, pesona Nyi Roro Kidul, hingga pemandangan pedesaan yang asri, sukses mencuri pandangan pengendara yang berhenti di lampu merah.

Di balik karya-karya realis itu, ada sosok Ki Mugo Sumedi (65).

Baca juga: Video UMP Galang Kepedulian Lewat Lelang Lukisan, Ringankan Mahasiswa Sumatera-Aceh Terdampak Banjir

Tangan kanannya tampak luwes menari di atas kanvas, sesekali mencocol cat air dari palet tripleks sederhana.

"Lukisan saya genrenya realis. Ini sedang buat pesanan kenang-kenangan pejabat dari kejaksaan," ujarnya ramah kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (27/1/2026).

Mantan Penjual Buku

Perjalanan Ki Mugo di dunia seni rupa ternyata penuh lika-liku.

Sebelum memegang kuas, ia menghabiskan waktu 12 tahun sebagai penjual buku keliling yang menjajakan buku sastra dan pelajaran.

Kariernya sebagai pelukis baru dimulai sekitar tahun 1990-an di Ibu Kota Jakarta.

"Saya tahun 1990-2016 di Jakarta. Awalnya pelukis kaki lima di seberang Universitas Trisakti Jakarta," kenangnya.

Meski belajar secara otodidak, bakatnya tak bisa dipandang sebelah mata.

Ia bahkan sempat dikontrak oleh jenama alat tulis ternama, Faber-Castell, sebagai juru demo lukis selama enam tahun.

Pengalaman bergaul dengan sesama seniman di Jakarta semakin mematangkan tekniknya.

Langganan Pejabat

Kini, setelah memutuskan pulang kampung ke Banyumas, rezeki Ki Mugo justru makin mengalir deras.

Ia mengaku nyaris tak pernah menganggur. Dalam sebulan, ia bisa mengerjakan hingga 15 pesanan lukisan.

Minimnya pesaing yang menguasai teknik lukis wajah realis menggunakan cat di wilayah Banyumas Raya menjadi keuntungan tersendiri baginya.

"Yang jelas seperti pejabat-pejabat di sini, hampir saya yang melukis, termasuk di Purbalingga. Karena jarang ada yang menguasai melukis wajah pakai cat," jelasnya.

Untuk tarif, Ki Mugo mematok harga yang variatif dan terjangkau.

Lukisan serbuk pensil dibanderol mulai Rp 300 ribu, berwarna Rp 350 ribu, sedangkan lukis kanvas dihargai mulai Rp 1 juta. (fba)

 

Sumber: Tribun Banyumas
Tags
Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved