Minggu, 7 Juni 2026

Bisnis dan Ekonomi

Rupiah Melemah, Eksportir Rotan Sukoharjo Justru Raup Berkah Kurs Dolar AS

Pelemahan rupiah bawa berkah bagi eksportir industri rotan di Sukoharjo berkat transaksi dolar AS.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
Tribun Solo/TribunSolo/Anang Ma'ruf
TERKEREK DOLAR - Ilustrasi pengusaha rotan di Desa Trangsan, Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (5/6/2026). Perajin rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, masih menemukan sisi positif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut justru memberikan keuntungan bagi pelaku usaha yang mengandalkan pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat. 
Ringkasan Berita:
  • Di tengah kenaikan harga bahan baku dan ketidakpastian ekonomi global, eksportir rotan justru mampu meraup keuntungan lebih besar dari penjualan ke pasar Amerika Serikat.
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ternyata membawa berkah tersendiri bagi pelaku industri rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo
  • Ketua Klaster Rotan Desa Trangsan, Suryanto, mengatakan transaksi ekspor yang menggunakan dolar membuat pendapatan perusahaan ikut meningkat

TRIBUNBANYUMAS.COM, SUKOHARJO — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru membawa berkah tersendiri bagi para pelaku industri rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, para eksportir di sentra kerajinan tersebut mampu meraup keuntungan lebih besar dari hasil penjualan ke pasar Amerika Serikat berkat selisih konversi mata uang. 

Keuntungan dari penguatan kurs mata uang asing ini menjadi penyelamat bagi para pelaku usaha untuk menutup pembengkakan biya produksi akibat rantai pasok dunia yang sedang terganggu. 

"Efek dari pelemahan rupiah ini karena transaksi kami menggunakan dolar. Saya banyak mengirim produk ke Amerika, jadi sebenarnya kondisi ini cukup membantu," ujar Ketua Klaster Rotan Desa Trangsan, Suryanto, Jumat (5/6/2026). 

Keuntungan Kurs Dolar AS Tutup Pembengkakan Biaya

Suryanto menjelaskan, skema transaksi ekspor yang menggunakan denominasi dolar AS otomatis mendongkrak pendapatan kotor perusahaan saat dikonversi ke dalam mata uang rupiah.

Ia mencontohkan, produk yang biasanya dijual seharga 10 dolar AS sebelumnya bernilai setara Rp160 ribu, namun kini nilainya melonjak mendekati Rp178 ribu hingga Rp180 ribu per unit. 

Lonjakan margin dari selisih kurs tersebut dinilai sangat krusial dalam menjaga napas bisnis para perajin. Pasalnya, harga jual produk kerajinan di pasar internasional tidak dapat dinaikkan begitu saja secara sepihak, sementara ongkos operasional internal terus merangkak naik. 

"Bisa menutupi kenaikan-kenaikan bahan baku yang tadi saya sebutkan. Jadi harga jual ke Amerika juga naik (secara konversi nilai)," jelas Suryanto menambahkan. 

Baca juga: Imbas Rupiah Melemah, Harga Oli dan Ban Motor di Klaten Melonjak hingga Empat Kali

Tantangan Lonjakan Harga Bahan Baku dan Energi Dunia

Kendati diuntungkan oleh pelemahan rupiah, sektor kerajinan komoditas ekspor ini tetap dibayangi tantangan berat dari sektor hulu. Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, memicu kelangkaan serta lonjakan harga energi global yang berimbas pada komoditas dalam negeri. 

Saat ini, harga rotan alami tercatat mengalami kenaikan sekitar 10 persen. Kenaikan paling ekstrem melanda jenis rotan sintetis yang berbasis kimia plastik, di mana harga biji plastik meroket hingga 100 persen sehingga harga jual rotan sintetis terkerek naik hingga 35 persen. 

Beban perajin semakin bertambah karena material pendukung dekorasi (finishing) yang masih bergantung pada barang impor juga naik berkisar 15 hingga 20 persen, diikuti kenaikan harga kertas karton untuk pengemasan produk. 

Meski pasar ekspor dibayangi kelesuan, keuntungan selisih kurs dinilai menjadi bantalan kuat bagi para pengusaha rotan Sukoharjo untuk tetap bertahan sembari menunggu pulihnya daya beli pasar internasional. (amb)

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved