Sabtu, 9 Mei 2026

Banyumas

Isu Perang Global, Warga Banyumas Diimbau Jangan Panic Buying

Kepala Dinkop UKM dan Perdagangan Banyumas mengimbau masyarakat agar tidak panic buying merespons meluasnya isu konflik geopolitik Timur Tengah

Tayang:
Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad
BERI KETERANGAN - Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, saat ditemui di kantornya, Selasa (27/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Banyumas memastikan stok kebutuhan pokok dan pertanian lokal masih aman terkendali.
  • Kenaikan harga sembako saat ini dinilai murni karena tren momentum Lebaran, bukan imbas langsung dari penutupan Selat Hormuz.
  • Masyarakat diimbau untuk tidak panic buying dan lebih bijak menyaring informasi agar tidak termakan hoaks terkait kelangkaan bahan pokok.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Perdagangan Kabupaten Banyumas mengimbau masyarakat untuk tidak berbelanja berlebihan atau panic buying di tengah maraknya isu kondisi geopolitik global.

Dampak Belum Terasa

Kepala Dinkop UKM dan Perdagangan Banyumas, Gatot Eko Purwadi mengatakan, belum ada dampak langsung terhadap fluktuasi harga kebutuhan masyarakat akibat isu penutupan Selat Hormuz di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Polisi TikToker Aipda Malvinas Siaga di Pos Pam Ajibarang Banyumas

Menurutnya, tren kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi di pasaran saat ini masih tergolong normal karena bertepatan dengan momentum Lebaran.

Amankan Suplai Barang

Saat ini, fokus utama jajarannya adalah memastikan suplai barang-barang yang menjadi hajat kebutuhan masyarakat luas tetap aman.

"Antisipasi kami adalah sumber pangan harus aman. Kalau yang lokal masih bisa kami back up, seperti pertanian lokal, itu aman," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (17/3/2026).

Ancam Kuras Anggaran

Gatot tidak menampik bahwa dampak kondisi geopolitik global tersebut memang sudah mulai menyebabkan kenaikan pada harga minyak mentah dunia. Dampaknya, jika eskalasi konflik ini terus berkepanjangan, hal itu dapat berpotensi menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi.

Imbas Komoditas Impor

Sedangkan untuk sektor riil, produk yang memungkinkan terdampak langsung adalah komoditas pangan yang selama ini masih mengandalkan jalur impor, seperti daging beku, gandum, bawang putih, dan lain sebagainya.

"Kalau ini (konflik) terus berlanjut, pasti ini akan terus mengalami kenaikan," ungkapnya memprediksi situasi.

Jangan Beli Panik

Gatot menjelaskan, beberapa bahan makanan impor sampai saat ini ketersediaan stok maupun harganya masih relatif aman. Biasanya, distributor lokal sudah mengambil barang untuk cadangan penyangga selama 3-4 bulan ke depan.

Namun jika perang benar-benar berkepanjangan, maka hal itu bisa berdampak serius terhadap stabilitas minyak dunia dan memengaruhi rantai logistik makanan di Indonesia.

"Presiden sempat merilis akan ada wacana pembatasan penggunaan BBM dan wacana WFH (work from home)," ujarnya mencontohkan langkah antisipatif dari pusat.

Saring Kebenaran Informasi

Meski skenario tersebut ada, Gatot mengimbau dengan sangat agar masyarakat tidak panic buying terhadap kondisi isu geopolitik global saat ini. Dia berharap ketegangan internasional tidak berkepanjangan sehingga pasokan rantai bahan bakar dunia kembali aman.

Kemudian, ia pun berpesan agar warga Banyumas lebih cerdas menyikapi sumber-sumber berita yang belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Jangan sampai menimbulkan panik. Pemerintah pusat juga selalu memantau pergerakan di Timur Tengah. Insyaallah tetap aman," ungkapnya memungkasi. (fba)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved