Berita Banyumas
Digitalisasi Dikebut, Belanja di Pasar Tradisional Banyumas Bisa Pakai QRIS
Digitalisasi pasar menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam mendorong akses keuangan
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
Secara nasional, keberadaan TPAKD telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia, meliputi 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan dan literasi keuangan masyarakat.
Berdasarkan data tahun 2025, tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sementara tingkat literasi keuangan baru berada di angka 66,46 persen.
"Kesenjangan ini menjadi tantangan bersama bagi pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan pemahaman serta pemanfaatan layanan keuangan oleh masyarakat," jelas Dinavia.
Di tingkat daerah, Kabupaten Banyumas mencatat sejumlah capaian positif sepanjang 2025 melalui lima program prioritas TPAKD.
Baca juga: Lowongan 30 Ribu Tenaga Kerja Lebih untuk Koperasi Merah Putih, Posisi Admin hingga Manajer
Di antaranya program One Student One Account (Simpanan Pelajar) yang melampaui target dari 1.000 menjadi 1.750 rekening.
Selain itu, penguatan Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) juga dilakukan melalui pendampingan literasi keuangan di desa serta perluasan akses layanan keuangan bagi masyarakat.
Program digitalisasi pasar pun mulai diterapkan, salah satunya melalui penggunaan sistem pembayaran berbasis QRIS di Pasar Cilongok.
Dinavia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjalankan program TPAKD ke depan, termasuk sinergi dengan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah.
"Semangat dari program baru ini adalah kolaborasi.
Program kerja dari berbagai objek dapat diintegrasikan dalam agenda TPAKD, baik berupa optimalisasi produk layanan maupun pendampingan," jelasnya.
Salah seorang pedagang pisang, di Pasar Manis Purwokerto, Suparno mengatakan dengan adanya keberadaan transaksi pembayaran Qris ini memang memudahkan pembeli.
"Banyak yang beli sekarang lebih memilih pakai Qris karena lebih praktis. Kita juga sudah tidak perlu menyiapkan kembalian," katanya.
Ia sendiri sudah sejak sekitar 2 tahunan ini aktif menyiapkan transaksi Qris. Menurutnya di Pasar Manis ini banyak pembeli atau pendatang atau wisatawan yang sudah terbiasa menggunakan transaksi non tunia.
"Kalau Pasar Manis ini banyak juga pendatang, jadi mau tidak mau ya kita harus menyesuaikan, mereka banyak yang tanya bisa pakai non tunai atau tidak," jelasnya. (jti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Pasar-manis-purwokerto-digitalisasi.jpg)