Jumat, 1 Mei 2026

Berita Cilacap

Jejak Dakwah Wali di Masjid Agung Darussalam Cilacap

satu-satunya petunjuk mengenai usia masjid kini hanya tersisa dari tulisan ukiran yang terdapat pada beduk tua

Tayang:
Tribun Banyumas
Masjid Agung - Masjid Agung Darussalam Cilacap yang berdiri di kawasan Alun-alun Cilacap, Kabupaten Cilacap, menjadi salah satu masjid bersejarah dan kebanggaan umat Islam setempat, Selasa (10/3/2026). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Masjid Agung Darussalam Cilacap menjadi salah satu ikon kebanggaan umat Islam di Kabupaten Cilacap yang berdiri megah di pusat kota dan menyimpan sejarah panjang perkembangan dakwah Islam di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah.


Masjid yang berada di kawasan Alun-alun Cilacap ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang penyebaran Islam yang diyakini berkaitan dengan dakwah para wali dan murid Wali Songo di tanah Jawa.


Takmir sekaligus Imam Masjid Agung Darussalam Cilacap, KH Muslihun Ashari, mengatakan sejarah pasti berdirinya masjid tersebut sulit ditentukan karena berbagai renovasi yang terjadi selama puluhan tahun membuat banyak literasi dan arsip lama hilang.


“Secara pasti tanggal dan tahun berdirinya Masjid Agung Darussalam memang tidak bisa kami jelaskan karena sudah mengalami beberapa kali renovasi dan banyak data sejarah yang hilang,” ujar KH Muslihun Ashari, Selasa (10/3/2026).


Ia menjelaskan renovasi besar terakhir Masjid Agung Darussalam terjadi pada tahun 1998 dan selesai pada tahun 2000, yang turut menyebabkan sebagian catatan sejarah awal masjid tidak lagi tersimpan.


“Setelah renovasi terakhir itu banyak literasi lama yang mulai kabur karena para pendahulu sudah tidak ada dan arsipnya juga sebagian besar hilang,” jelasnya.


Menurut KH Muslihun, satu-satunya petunjuk mengenai usia masjid kini hanya tersisa dari tulisan ukiran yang terdapat pada beduk tua yang masih disimpan di Masjid Agung Darussalam Cilacap.


“Prasasti yang ada di beduk itu menjadi salah satu petunjuk yang bisa kami jadikan acuan untuk mengetahui sudah berapa lama masjid ini berdiri,” katanya.


Ia menuturkan, hilangnya sejumlah arsip sejarah juga berkaitan dengan perpindahan kantor Kementerian Agama yang dahulu berada satu kawasan dengan Masjid Agung Darussalam Cilacap.


“Dulu area masjid ini satu kawasan dengan kantor Departemen Agama, sehingga saat kantor itu pindah banyak arsip yang ikut berpindah bahkan ada yang hilang,” ungkapnya.


Meski demikian, dari cerita para sesepuh Cilacap, KH Muslihun menyimpulkan bahwa berdirinya Masjid Agung Darussalam tidak lepas dari proses penyebaran Islam yang dilakukan murid-murid Wali Songo, khususnya dari jalur dakwah Sunan Kalijaga.


“Banyak cerita dari para orang tua dulu bahwa masjid ini berkaitan dengan penyebaran Islam oleh murid para wali, terutama yang memiliki garis dakwah dari Sunan Kalijaga,” tuturnya.

Baca juga: Kisah Pasutri di Blora Dirikan Omah Satwa, Sehari Habis Rp 150 Ribu untuk Pakan


Ia menjelaskan tata letak Masjid Agung Darussalam yang berada di dekat alun-alun dan pusat pemerintahan juga memiliki filosofi yang sejalan dengan tradisi kota-kota Islam di Jawa.


“Biasanya di kota-kota Jawa itu ada alun-alun di depan, masjid di satu sisi dan penjara di sisi lain, yang menggambarkan bahwa manusia selalu diberi pilihan antara jalan kebaikan atau keburukan,” jelas KH Muslihun.


Keunikan Masjid Agung Darussalam Cilacap juga terlihat dari struktur bangunannya yang masih mempertahankan bentuk arsitektur tradisional Jawa dengan model atap joglo.


Bentuk arsitektur tersebut membuat masjid ini sering dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang juga dikenal sebagai salah satu pusat sejarah penyebaran Islam di Jawa.


“Masjid Agung Darussalam ini masih menggunakan model joglo seperti Masjid Demak, berbeda dengan banyak masjid modern yang sudah menggunakan kubah besar,” jelasnya.


Selain bentuk arsitektur, ciri khas lain yang menjadikan masjid ini unik adalah jumlah saka guru atau tiang utama yang jauh lebih banyak dibandingkan masjid pada umumnya.


KH Muslihun mengatakan, Masjid Agung Darussalam memiliki 20 saka guru yang menjadi simbol filosofi penting dalam ajaran Islam.


“Biasanya masjid hanya memiliki empat saka guru, tetapi di Masjid Agung Darussalam ada 20 tiang utama yang melambangkan sifat wajib Allah dan sifat mustahil bagi Allah,” ungkapnya.


Jumlah tiang yang banyak itu kini dilapisi kayu jati, meskipun struktur di dalamnya sudah menggunakan beton setelah proses renovasi.


“Tiang beton itu kemudian ditutup dengan kayu jati lama agar tetap menjaga nilai sejarah dan filosofi yang ada sejak dahulu,” katanya.


Secara keseluruhan jumlah tiang penyangga di dalam Masjid Agung Darussalam mencapai sekitar 36 tiang, meski yang menjadi simbol utama tetap 20 saka guru tersebut.


Keunikan arsitektur itu membuat banyak tamu dari luar daerah tertarik saat berkunjung ke Masjid Agung Darussalam Cilacap.


“Banyak tamu yang datang ke sini mengatakan masjidnya bagus tetapi tiangnya banyak sekali, padahal itu justru simbol yang harus dijaga,” tutur KH Muslihun.


Di tengah perkembangan zaman, Masjid Agung Darussalam Cilacap tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekaligus ruang syiar Islam di wilayah perkotaan.


Menurut KH Muslihun, masyarakat Islam di Cilacap memiliki karakter yang unik karena hidup berdampingan dengan budaya pesisir dan tradisi lokal.


“Karena Cilacap berada di wilayah pantai, maka masyarakatnya memiliki perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam, misalnya adanya tradisi sedekah laut,” jelasnya.


Meski demikian, ia menilai kehidupan keagamaan masyarakat Cilacap tetap berkembang dengan baik, terutama karena banyaknya pondok pesantren yang tersebar di wilayah kabupaten tersebut.


“Cilacap termasuk daerah dengan jumlah pesantren yang cukup banyak di Jawa Tengah sehingga kehidupan keagamaannya juga cukup kuat,” katanya.


KH Muslihun menambahkan, bahwa dakwah Islam di Cilacap relatif mudah diterima masyarakat selama dilakukan dengan pendekatan yang baik dan bijak.


“Kalau pendekatan dakwahnya tepat, masyarakat Cilacap sangat terbuka dan mudah menerima pesan-pesan keagamaan,” ujarnya.


Ia sendiri mengaku, hampir setiap hari mendapat jadwal untuk mengisi tausiyah di berbagai kegiatan keagamaan di wilayah Kota Cilacap.


“Hampir setiap hari saya keluar untuk mengisi tausiyah atau pengajian di wilayah kota karena masyarakatnya sangat antusias,” katanya.


Bagi masyarakat Cilacap, Masjid Agung Darussalam bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan juga simbol sejarah, dakwah, dan identitas Islam di kota pesisir selatan Jawa Tengah.


“Masjid Agung Darussalam ini bukan hanya tempat shalat, tetapi juga bagian dari sejarah perjalanan Islam di Cilacap yang harus terus dijaga,” pungkas KH Muslihun. (ray)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved