Kebumen
Serap Aspirasi di Kebumen, Abdul Kholik Ingatkan Program Koperasi Merah Putih Jangan Instan
Senator Abdul Kholik menyerap keluhan warga Kebumen soal polemik Koperasi Desa Merah Putih. Ia sarankan penerapan pilot project.
Penulis: Agus Iswadi | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Anggota DPD RI, Abdul Kholik, menghadiri FGD terkait polemik pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kebumen.
- Terungkap aspirasi mengenai konflik sosial, musyawarah desa yang dipaksakan, hingga ketidakjelasan anggaran pengurukan lahan.
- Abdul Kholik menilai tujuan koperasi baik untuk ekonomi, namun pelaksanaannya tidak boleh instan dan masif tanpa uji coba.
- Ia mengusulkan pembuatan pilot project di Kebumen sebagai rujukan keberhasilan sebelum diterapkan massal.
TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Polemik pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Kebumen mendapat perhatian serius dari Senator Jawa Tengah.
Anggota DPD RI, Abdul Kholik turun langsung menyerap aspirasi untuk mengurai benang kusut persoalan tersebut.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Candisari Kebumen, Kamis (8/1/2026), Abdul Kholik menerima banyak masukan dari kepala desa dan akademisi.
Baca juga: Anggota DPD RI Abdul Kholik Orasi di UNIKMA, Ajak Kampus Kolaborasi Majukan Daerah
Ia menekankan, niat baik pemberdayaan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan cara yang menabrak aturan.
Jangan Terburu-buru
Menanggapi banyaknya keluhan soal proses yang terkesan dipaksakan, Abdul Kholik mengingatkan agar program ini tidak dieksekusi secara instan.
"Koperasi bentuk usaha, yang namanya usaha harus dipersiapkan dengan baik tidak dilakukan dengan cara-cara yang instan. Kalau memungkinkan dibuat jelas dulu unit usaha yang akan dibangun," ungkap Abdul Kholik.
Ia menyarankan agar tidak ada pemaksaan program secara masif (masifikasi) jika belum ada bukti keberhasilan yang nyata.
Usulkan Pilot Project
Sebagai solusi jalan tengah, Abdul Kholik mendorong agar Kabupaten Kebumen membuat percontohan terlebih dahulu.
"Jangan dibuat program dengan masifikasi tanpa melalui proses piloting yang bisa menjadi rujukan berhasil atau tidaknya," jelasnya.
Dengan adanya pilot project, potensi risiko kegagalan dan konflik sosial bisa diminimalisir.
Aspirasi ini, kata Kholik, akan ia bawa ke tingkat pusat agar menjadi bahan evaluasi kebijakan nasional.
"Jangan sampai menabrak peraturan perundang-undangan terkait dengan lahannya yang itu mungkin lahan yang dilindungi. Ini kan bagian program negara jadi harus tunduk pada aturan negara dengan baik," pungkasnya.
Ancaman Konflik Sosial
Sebelumnya, Presidium Formasi (Forum Masyarakat Sipil) Kebumen, Yusuf menyampaikan kepada Abdul Kholik bahwa program ini telah memicu konflik sosial.
Mulai dari musyawarah desa yang dipaksakan hingga masalah lahan.
"Ini menjadi titik tembak calon-calon Kades yang akan mencalonkan kembali (di Pilkades 2027). Karena banyak hal yang bertentangan regulasi," terang Yusuf.
| Targetkan Lima Kursi DPRD, PSI Kebumen Kebut Bentuk Ranting di 460 Desa |
|
|---|
| Basarnas Cari Markas, Pemkab Kebumen Tawarkan Lahan di Prembun |
|
|---|
| Harga Cuma Rp1.700 per Biji, Pengusaha Sokka Pejagoan Siap Pasok Program Gentengisasi |
|
|---|
| Jembatan Karanganyar Dibuka, Tukang Becak Motor Tak Lagi Sepi Penumpang |
|
|---|
| Ditinggal Kenduren, Warung di Kebumen Kebobolan Maling untuk Ketiga Kalinya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260108-Abdul-Kholik.jpg)