Senin, 4 Mei 2026

Berita Purbalingga

Gelombang PHK Kembali Melanda Buruh Pabrik Bulu Mata di Purbalingga

PT Sung Shim kini hanya menyisakan sekitar 70 orang pekerja yang masih bertahan. 

Tayang:
Tribun Banyumas/Farah Anis Rahmawati
PABRIK TAMPAK SEPI, Suasana lengang di depan gerbang PT Sung Shim Internasional Kalikabong usai gelombang PHK, Senin (29/12/2025). Kondisi ini terjadi akibat ketatnya persaingan global yang memaksa perusahaan memangkas jumlah karyawan secara signifikan. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA — Suasana lengang terasa di kawasan pabrik PT Sung Shim Internasional di Kelurahan Kalikabong, Kabupaten Purbalingga.

Area yang dahulu dipenuhi aktivitas ratusan pekerja kini tampak lebih sunyi, seiring munculnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda perusahaan tersebut.


Dinas Ketenagakerjaan (Dinnaker) Kabupaten Purbalingga, melalui Kepala Bidang Hubungan Industrial, Yesu Dewayana mengatakan, sekitar dua pekan yang lalu sebanyak 145 karyawan resmi di-PHK dari perusahaan tersebut. 


"Betul, kemarin ada sekitar 145 karyawan yang terpaksa harus di PHK. Namun terkait proses PHK sendiri kemarin alhamdulilah berjalan lancar dengan Perjanjian Bersama (PB).

Jadi, ada kesepakatan terkait pesangon dan hak-hak pekerja, meskipun memang tidak bisa 100 persen dipenuhi," terangnya saat dijumpai Tribunbanyumas.com, Senin (29/12/2025). 


Pasca PHK tersebut, pihaknya menyatakan PT Sung Shim kini hanya menyisakan sekitar 70 orang pekerja yang masih bertahan. 


"Meskipun sekarang karyawannya tinggal 70 orang, kami harap jangan sampai tutup. Mudah-mudahan kedepan bisa tetap bertahan dan semoga saja order tetap ada," katanya. 

Baca juga: Misteri Penemuan Igir Karem Purbalingga, Bekas Bangunan Peradaban Purba?

Sejak tahun 1990 an


Untuk diketahui, PT Sung Shim Internasional merupakan salah satu perusahaan bulu mata palsu asal Korea Selatan yang telah lama berdiri di Purbalingga sejak tahun 90an. 


Sebelumnya, perusahaan tersebut memiliki cabang di Tegal, namun saat ini telah resmi tutup dan dijual. Sehingga, Purbalingga menjadi satu-satunya lokasi operasional yang masih tersisa. 


"Padahal, dahulu karyawannya banyak, bisa sampai 800 an orang," ujarnya. 


Terkait penyebab PHK sendiri, pihaknya menyebut terdapat beberapa faktor, salah satunya ialah persaingan industrial yang kini semakin ketat. 


Di sisi lain, biaya tenaga kerja di beberapa negara maju saat ini juga lebih murah, ditambah dengan penggunaan mesin produksi.

Sehingga hal tersebut membuat order ke perusahaan di Purbalingga semakin menurun. 


"Memang sekarang persaingan semakin berat. Ongkos tenaga kerja semakin murah, terutama persaingan dengan China sekarang juga sudah banyak. Meskipun disisi keterampilan kita unggul, tapi kita kalah di efisiensi biaya," tuturnya. 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved