"Bu Endang, orangnya ramah sekali. Bertahun-tahun kemudian saya sempat bertemu lagi dengannya, dan ia masih ingat saya," ujarnya.
Pada Desember 1979, Kamp Plantungan resmi ditutup. Para tahanan dipindahkan atau dibebaskan dengan status “eks-tapol” yang melekat seumur hidup. Luka, stigma, dan kenangan pahit itu tak pernah benar-benar hilang.
Kini, Plantungan mungkin tampak seperti bangunan tua biasa. Tetapi bagi para penyintas, ia adalah ruang memori yang getir, sebuah pengingat bahwa sejarah tidak hanya tentang narasi besar politik, melainkan juga tentang manusia biasa yang dipaksa kehilangan cita-cita, keluarga, dan kehidupannya.
Baca tanpa iklan