Berita Cilacap
Dampak Perubahan Iklim Ganggu Siklus Hidrologi, Nelayan Cilacap Dilatih Membaca Cuaca dan Arus Laut
Nelayan di Cilacap dilatih membaca cuaca dan arus laut agar aman serta lebih produktif saat melaut di Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan.
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Sebanyak 70 nelayan di Cilacap dilatih membaca cuaca dan arus laut lewat Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN), Jumat (22/8/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Persatuan Wanita Patra Pertaminan Cilacap ini dipimpin langsung Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.
Dwikorita mengatakan, para nelayan harus bisa membaca cuaca agar selamat dan lebih produktif saat melaut.
Terutama, dampak perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat celsius dibandingkan dengan era pra-industri tahun 1850.
"Peningkatan suhu ini memicu siklus hidrologi yang berdampak pada hujan ekstrem, suhu panas, iklim ekstrem, hingga fenomena El Nino dan La Nina," kata Dwikorita saat membuka acara.
Baca juga: Akhir Pekan, BMKG Prediksi Cilacap Masih Diguyur Hujan
Menurutnya, kelompok paling terdampak dari perubahan iklim adalah petani dan nelayan karena mata pencaharian mereka terkait langsung dengan atmosfer dan samudera.
"Badai tropis juga mengintai di samudera sehingga nelayan perlu beradaptasi dan memahami prediksi cuaca agar tetap selamat," tegasnya.
Dalam sekolah cuaca itu, BMKG membekali para nelayan dengan teknologi digital, di antaranya aplikasi Inawis atau Weather Information for Shipping.
"Aplikasi ini memberi informasi kondisi gelombang, angin, arus laut, bahkan titik kumpul ikan, sehingga nelayan bisa merencanakan melaut lebih aman sekaligus produktif," kata Dwikorita.
Ia menambahkan, penyebaran informasi cuaca dan iklim harus terus diperkuat agar nelayan dapat meningkatkan hasil tangkapan sekaligus menghindari risiko bencana.
"Tujuan sekolah lapang ini adalah menjaga ketahanan pangan, meski cuaca ekstrem makin sering terjadi, agar swasembada tetap terjaga," jelasnya.
Baca juga: Masih Kemarau Tapi Hujan? BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Hingga September
Pihaknya juga merencanakan program serupa bagi petani melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk mendukung swasembada pangan nasional.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Cilacap, Djarot Prasojo, menyambut baik program SLCN yang dinilai bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.
"Kami berharap, kegiatan semacam ini tidak hanya bagi nelayan tapi juga petani sehingga bisa berjalan seiring dengan upaya memperkuat ketahanan pangan," ucap Djarot.
Ia juga berharap, peserta SLCN dapat benar-benar menerapkan ilmu yang diperoleh agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh keluarga nelayan.
"Harapan kami, para nelayan tidak hanya hadir sebagai peserta tapi juga mampu mempraktikkan pengetahuan ini di lapangan sehingga hasil tangkapan meningkat dan risiko bencana bisa ditekan," katanyanya. (*)
| Dermaga PPSC Overkapasitas, Nelayan Cilacap Antre Berjam-jam Hanya untuk Dapat Tempat Parkir Kapal |
|
|---|
| Jalur Majenang-Cigintung Cilacap Lumpuh Tertimbun Longsor, Butuh Waktu Dua Pekan Bersihkan Material |
|
|---|
| 30 Tahun tak Tersentuh Pemerintah, Warga Gandrungmangu Cilacap Nekat Bangun Jalan Sendiri |
|
|---|
| Warga Demak Tewas di Halaman Hotel di Sampang Cilacap, Dikeroyok saat Pesta Miras |
|
|---|
| Peradi Cilacap Gerak Cepat Sosialisasi KUHP Baru kepada Advokat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/22082025-sekolah-cuaca-nelayan-cilacap.jpg)