Berita Nasional
Ngeri Kesaksian Pendaki Lintasi Jalur Ekstrem Gunung Rinjani, Lihat Bule Nangis Gak Mau Mati
Ketegangan saat melintasi jalur menuju puncak Rinjani diungkapkan Banu Adikara, pendaki asal Jakarta yang pernah mendaki Rinjani delapan tahun lalu
TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN- Jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan hanya menyuguhkan panorama indah, namun juga menyimpan ancaman bahaya bagi pendaki.
Salah satu titik bahaya adalah Cemara Nunggal, jalur menanjak yang diapit jurang dan batuan lepas.
Spot itu kini menjadi sorotan setelah pendaki asal Brasil, Juliana (27) dilaporkan jatuh ke jurang di jalur tersebut.
Ia ditemukan oleh tim SAR gabungan menggunakan drone thermal pada Senin (23/6/2025) pagi. Korban terpantau dalam posisi tersangkut di tebing batu sedalam 500 meter dan dalam keadaan tidak bergerak.
Proses evakuasi terkendala kondisi medan.
Tim harus menarik kembali personel penyelamat karena dua overhang besar membuat pemasangan jangkar tidak memungkinkan.
Baca juga: Bikin Cemas! Hasil Seleksi PPPK Tahap 2 Belum Juga Diumumkan Ada Apa
Kengerian Jalur Puncak Rinjani
Ketegangan saat melintasi jalur menuju puncak Rinjani diungkapkan Banu Adikara, pendaki asal Jakarta yang pernah mendaki Rinjani delapan tahun lalu, 2017.
“Parah, kanan kawah, kiri jurang. Jurang ke bawahnya itu mah lebih dari 500 meter. Saya jalan pelan banget, pakai buff, kacamata, dan senter,” ujar Banu kepada Kompas.com, Selasa (24/6/2025). Banu berangkat dari Jakarta bersama satu rekan pria dan memulai pendakian dari jalur Desa Bawak Nao, lalu mendirikan tenda di Plawangan Sembalun.
Summit dimulai pukul 02.00 dini hari, dan mereka mencapai Cemara Nunggal sekitar pukul 04.30, dalam kondisi gelap dan angin kencang.
“Saya pernah ketemu bule yang nangis di sana. Dia bilang nggak mau mati di situ,” kata Banu.
Pendaki lain asal Jakarta, Riyan Setiawan menyebut jalur itu terjal, berbatu, minim penerangan. Jalur itu bisa membuat pendaki bingung jika tidak fokus.
“Biasanya summit jam dua atau tiga pagi. Jalurnya nggak jelas, kadang melebar, bisa salah jalur,” ujar Riyan.
Pendaki lain Bayu Adji menyebut jalur tersebut sempit dan bersebelahan langsung dengan jurang menghadap Segara Anak. Saking sempitnya jalur itu, sehingga pendaki harus bergantian.
“Saya naik dari Sembalun, camp di Plawangan. Jam dua pagi summit. Jalur pasir dan sempit, sebelahnya jurang. Puncaknya juga sempit, mesti gantian,” jelas Bayu
Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (MdPL) menjadi favorit pendaki lokal maupun mancanegara.
Meski ada tantangan besar yang harus ditakluikkan yakni dari jalur Plawangan Sembalun ke puncak, khususnya di titik Cemara Nunggal. Jalur ekstrem inilah yang menjadi lokasi jatuhnya Juliana, Sabtu (21/6/2025) sekitar pukul 06.30 Wita.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.