Lipsus Pasar Wage
Beda Nasib Pedagang di Pasar Wage Purwokerto: Satu Cuan Live TikTok, Lainnya Pasrah Tunggu Pembeli
Priyo merana di Pasar Wage Purwokerto karena sepi pembeli, sementara Rina sukses jualan online di TikTok hingga bisa kredit motor.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Di kota yang sama, pada usia yang sama, dua nasib pedagang berusia 52 tahun di Purwokerto terbentang bagaikan bumi dan langit.
Di satu sisi, ada Priyo yang duduk lesu menanti pembeli yang tak kunjung datang di tengah hiruk pikuk Pasar Wage yang kian sepi.
Di sisi lain, ada Rina Oktarina, yang dari rumahnya justru mampu meraih sukses, bahkan hingga bisa mengkredit motor baru berkat kelihaiannya berjualan secara live di TikTok.
Baca juga: Jeritan Pedagang Pakaian di Pasar Wage Purwokerto yang Tersisih Karena Tren Belanja Online
Kisah pertama datang dari sudut Lantai 1 Blok A Pasar Wage, pada Sabtu (7/6/2025).
Di sana, Priyo (52) menatap nanar tumpukan pakaian dagangannya.
Sudah tiga hari terakhir, tak sehelai benang pun terjual dari lapaknya.
Pria yang telah berdagang sejak tahun 1993 ini mengaku baru kali ini merasakan pukulan telak dari sepinya pasar.
“Kadang tiga hari gak laku sama sekali. Paling sehari cuma dapat Rp20 ribu," keluh Priyo kepada Tribunbanyumas.com.
Baginya, tren belanja online adalah momok yang menggerus habis pelanggannya.
"Apa-apa sekarang online, apa-apa murah. Kita di pasar jadi makin sepi," tambahnya pasrah.
Untuk bertahan hidup, kini ia mengandalkan istrinya yang berjualan nasi goreng dari rumah.
Baca juga: Dirut PSIS Desak Pemegang Saham Mayoritas Pikirkan Persiapan PSIS di Liga 2
Namun, di sudut lain Kota Purwokerto, kisah yang sama sekali berbeda datang dari Rina Oktarina (52).
Jika Priyo merana karena gempuran digital, Rina justru menjadikan platform digital sebagai ladang rezeki.
Mantan penjual seserahan pengantin ini memutuskan banting setir setelah merasa usahanya stagnan.
Dengan modal kemauan, ia belajar otodidak cara berjualan di TikTok.
Hasilnya?
Sangat menjanjikan!
"Minimal sehari live, pasti ada yang checkout. Apalagi kalau di atas tanggal 25 pasti rame. Bisa sehari pernah Rp200 ribu dapatnya," ungkap Rina penuh semangat.
Pendapatannya yang kini stabil membuatnya berani mengambil kredit sebuah motor baru, sebuah pencapaian yang sulit dibayangkan oleh pedagang konvensional seusianya.
Lalu, apa rahasianya?
Rina membeberkan bahwa kuncinya adalah kemauan untuk beradaptasi.
Baginya, mengandalkan pembeli datang ke toko fisik sudah tidak relevan.
"Kalau hanya mengandalkan orang datang ke kita atau ke toko saya kira susah," tegasnya.
Ia melihat peluang pasar yang tak terbatas di dunia maya, menjangkau seluruh Indonesia hanya dari genggaman ponsel.
Ia juga cerdik memahami psikologi pembeli online.
Baca juga: Jeritan Pedagang Pakaian di Pasar Wage Purwokerto, Tersisih karena Maraknya Jualan Online
"Ibu rumah tangga sangat peduli dengan promo, beda Rp1000 sampai Rp2000 itu memengaruhi dibanding harga normal," jelasnya.
Bagi Rina, berjualan live di TikTok itu mudah, "asal mau usaha dan belajar."
Kisah kontras antara Priyo dan Rina menjadi potret nyata di era digital: adaptasi bukanlah lagi sebuah pilihan, melainkan kunci untuk bertahan dan bahkan berkembang, tak peduli berapa pun usianya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.