Senin, 8 Juni 2026

Berita Jateng

Menelusuri Gua Sentono Blora, Keindahan Alam di Atas Tebing Sungai Bengawan Solo

Tebing Gua Sentono berada sekitar 30 meter dari sungai, yang artinya tebing bantaran Bengawan Solo.

Tayang:
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: khoirul muzaki
M Iqbal Shukri
GUA SENTONO - Pengunjung saat berada di Gua Sentono, Jumat (23/5/2025) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BLORA - Derasnya arus air di Sungai Bengawan Solo masih menjadi saksi alam keberadaan Gua Sentono, di Dusun Sentono Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora.


Berabad-abad, cerita tentang Gua Sentono yang dibalut panorama alam itu masih membumi dan berkembang menjadi destinasi wisata yang patut dikunjungi.


Dari Taman Sentono kita bisa menikmati view nan eksotik dan bisa melihat ujung wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dan wilayah Kabupaten Blora Tengah.


Tebing Gua Sentono berada sekitar 30 meter dari sungai, yang artinya tebing bantaran Bengawan Solo.


Dari sepanjang Solo hingga Gresik, bantaran itu terbukti paling tinggi. Ini yang membuat menarik.


“Gua Sentono adalah destinasi wisata yang menawarkan pengalaman unik dan tak terlupakan. Perpaduan antara keindahan alam, sejarah mistis, dan potensi wisata yang besar menjadikan gua ini sebagai salah satu permata tersembunyi di Blora,” kata Kasiyanto, pengunjung Gua Sentono, Jumat (23/5/2025).


Dari berbagai sumber berkembang legenda di masa lampau, Dusun Sentono menjadi tempat berdirinya sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Blacak Ngilo.


Awalnya, padepokan ini begitu terkenal sehingga menarik perhatian banyak orang untuk datang ke Sentono guna menyantrik dan belajar dari Blacak Ngilo.

Baca juga: Pembangunan Tol Pejagan-Cilacap Kian Dekat, Exit Tol Diusulkan di Wangon dan Ajibarang Banyumas


Dengan kebijaksanaan dan kearifannya, Blacak Ngilo mengajarkan berbagai ilmu kepada para pengikutnya, termasuk cara bercocok tanam, budi pekerti, spiritual dan olah kanuragan kepada masyarakat lokal.


Sentono, yang berlokasi di tepi aliran Sungai Bengawan Solo, menjadi daerah yang strategis untuk pertanian.


Tak heran jika Sentono dan sekitarnya mengalami kemajuan yang luar biasa. Bahkan, Blacak Ngilo dihormati oleh pengikutnya seolah-olah ia adalah seorang raja.


Namun, setelah waktu berlalu, sikap Ki Blacak Ngilo mengalami perubahan yang kurang baik dengan bertindak sewenang-wenang. 


Warga desa dipaksa untuk menyumbangkan lebih dari separuh hasil panen mereka.


Selain itu, Ki Blacak Ngilo juga memerintahkan agar setiap keluarga yang memiliki anak perempuan harus menyerahkannya sebagai selirnya.


Ketegangan merayap di kalangan masyarakat, terutama setiap malam bulan purnama, mereka diwajibkan menyediakan darah manusia sebagai tumbal untuk memperkuat kesaktiannya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved