Sabtu, 25 April 2026

Berita Ekonomi

Imbas Tarif Trump, Pemprov Jateng Minta Eksportir Mulai Cari Pasar Baru

Pemprov Jateng meminta eksportir mulai melakukan diservikasi dan ekspansi ke negara-negara di Eropa sebagai tujuan ekspor.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/IDAYATUL ROHMAH
ILUSTRASI KONTAINER EKSPOR - Kapal membawa kontainer ekspor produk dari Jawa Tengah. Pemprov Jateng meminta eksportir mulai melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor setelah AS menerapkan tarif resiprokal 32 persen untuk barang impor dari Indonesia. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China dipastikan mempengaruhi perekonomian Jawa Tengah.

Pemprov Jateng pun meminta eksportir mulai melakukan diservikasi dan ekspansi ke negara-negara di Eropa sebagai tujuan ekspor.

Diketahui, Presiden Amerika Serika Donald Trump menerapkan tarif resiprokal 32 persen untuk barang impor Indonesia.

Hal ini akan membuat barang dari Indonesia bakal kalah saing dengan negara lain.

Hanya saja, hingga kini, dampak tersebut belum dirasakan.

Baca juga: Tarif Trump Hantam Sektor Tekstil dan Garmen, Indonesia Tawarkan Kerja Sama Impor Minyak Mentah

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Sakina Rosellasari mengatakan, Pemprov Jateng telah melakukan koordinasi dengan para pelaku usaha untuk menghadapi situasi ini.

"Waktu itu disampaikan beberapa pelaku usaha yang kami undang bahwa memang belum berdampak karena terinfo bahwa yang sudah siap untuk ekspor, (tetap) ekspor."

"Tetapi, dalam perjalanannya, tarif itu turun dari 32 persen menjadi 10 persen. Jadi, otomatis semua proses ekspor, baik alas kaki, garmen, produk pakaian jadi rajut dan bukan rajut yang tujuannya tertinggi ke Amerika Serikat masih tetap jalan," kata Sakina, Senin (21/4/2025).

Menurut Sakina, 41 persen dari total ekspor Jawa Tengah pada 2024 adalah tujuan Amerika Serikat.

Barang-barang yang dijual ke negeri Paman Sam tersebut berupa alas kaki, garmen, pakaian jadi rajut, dan nonrajut.

Selain terdampak tarif resiprokal AS, Jawa Tengah juga dikhawatirkan menerima dampak perang dagang AS-China.

Padahal, Jawa Tengah memiliki ketergantungan terhadap impor dari Tiongkok, terutama peralatan mesin yang digunakan dalam investasi. 

Sementara itu, impor dari AS didominasi sereal dan gandum.

Diversifikasi Negara Tujuan Ekspor

Dengan kondisi ini, Sakina menekankan pentingnya diversifikasi dalam perdagangan.

"Kami berharap, kalau namanya ekspor impor, tidak ada yang dominasi. Harusnya, ekspor itu menyebar ke berbagai negara. Impor juga."

"Kebijakan pusat juga sama. Ekspor tidak hanya pada satu negara tetapi mulai menyebar ke berbagai negara, termasuk Eropa, sasarannya," terangnya.

Baca juga: Dampak Tarif Trump di Jateng: Ekspor Dikhawatirkan Turun, Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Sakina pun berharap, para pengusaha menemukan pasar baru di luar AS meski hal tersebut bukan hal mudah.

"Pelaku usaha biasanya mendapatkan pesanan berdasarkan order dan order tersebut sudah menetapkan tujuan negara tertentu."

"Misalnya, alas kaki dan garmen, ternyata juga pada negara tertentu, termasuk Amerika."

"Kami mulai mengimbau (pengusaha) untuk tidak ada dominasi ekspor atau impor," jelasnya.

Sementara itu, dia menekankan nilai neraca perdagangan Jawa Tengah sektor nonmigas hingga saat ini masih surplus.

"Jawa Tengah masih surplus. Artinya, ekspornya lebih tinggi daripada impor," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved