Berita Jateng
Tradisi Boyong Grobog dan Sejarah Berdirinya Kabupaten Grobogan
Mereka membawa pusaka Grobog dan keris Kiai Sengkelat, yang merupakan simbol penting dalam sejarah Kabupaten Grobogan.
Penulis: Fachri Sakti N | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, GROBOGAN - Bupati Grobogan Setyo Hadi menyampaikan harapannya di acara Boyong Grobog Peringatan Hari Jadi ke-299 Kabupaten Grobogan, Senin (3/3/2025).
Setyo Hadi, dalam kesempatan ini menegaskan bahwa tradisi Boyong Grobog merupakan simbol penting dalam menjaga keberlanjutan budaya dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Harapan Bupati Setyo Hadi, dengan adanya peringatan dan tradisi Boyong Grobog ini, Kabupaten Grobogan dapat semakin makmur, aman, dan sejahtera, serta terhindar dari segala bentuk bencana.
Beliau berharap masyarakat Grobogan terus menjaga semangat gotong royong dan berbagi, yang menjadi inti dari nilai luhur masyarakat Grobogan.
"Semoga dengan adanya peringatan tradisi Boyong Grobog ini, Kabupaten Grobogan semakin aman, makmur, sejahtera, jauh dari bencana dan gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo," ujar Bupati Setyo Hadi.
Dalam acara Boyong Grobog ini Bupati dan Wakil Bupati Grobogan tampil mengenakan pakaian adat Jawa, layaknya seorang raja.
Baca juga: Sederet Program Selama Ramadan di Awal Pemerintahan Bupati Purbalingga Fahmi
Mereka membawa pusaka Grobog dan keris Kiai Sengkelat, yang merupakan simbol penting dalam sejarah Kabupaten Grobogan.
Setibanya di Pendopo Kabupaten Grobogan, rombongan kirab disambut dengan ritual sesuci dan doa.
Pusaka Grobog dan keris Kiai Sengkelat kemudian diserahkan sebagai simbol kehormatan dan keberkahan untuk kabupaten.
Ratusan Warga Padati Boyong Grobog
Ratusan warga hadir memadati alun-alun Purwodadi untuk menyaksikan dan ikut serta dalam acara tradisi Boyong Grobog.
Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, tradisi ini tidak hanya memperingati sejarah, tetapi juga mempererat rasa persatuan dan kebersamaan antarwarga.
Dalam Boyong Grobog tahun ini, warga Grobogan kembali disuguhkan dengan kirab Keris Kiai Sengkelat yang diarak dari kantor Kelurahan Grobogan menuju kantor Kabupaten Grobogan.
Prosesi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah panjang Kabupaten Grobogan, yang konon bermula dari zaman kerajaan Majapahit.
Masyarakat yang antusias mengikuti kirab tersebut percaya bahwa keberadaan Keris Kiai Sengkelat dan pusaka Grobog membawa berkah bagi kehidupan mereka.
Setelah prosesi kirab, acara dilanjutkan dengan ritual pembagian sedekah bumi dalam bentuk gunungan yang berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan.
Bagi masyarakat Grobogan, gunungan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga lambang berkah yang diharapkan dapat memberikan kesejahteraan.
Selain itu, tradisi ini juga mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Sejarah dan Makna Boyong Grobog
Tradisi ini memiliki makna sejarah yang sangat penting bagi masyarakat setempat, sebagai penghormatan terhadap sejarah berdirinya Kabupaten Grobogan yang bermula dari zaman kerajaan Majapahit.
Baca juga: Big Match PSIS Semarang Kontra Persija Jakarta, Sama-sama Bawa Misi Berat
Diceritakan, grobog adalah asal mula terbentuknya kabupaten Grobogan.
Di masa kerajaan Majapahit ada pasukan yang diutus untuk mengirim senjata pusaka dan dimasukan dalam kotak atau grobog.
Pasukan tersebut kemudian bertemu dengan perampok dan mereka lari meninggalkan grobog.
Selanjutnya oleh Sunan Kalijaga, para perampok tersebut berhasil dikalahkan dan grobog direbut kembali.
Tempat tertinggalnya grobog itu kemudian dinamakan Grobog atau Grobogan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Boyong-grobog.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.