Selasa, 14 April 2026

Berita Jateng

Jemaah Aboge di Jepara Tetapkan 1 Ramadan Minggu 2 Maret 2025

penghitungan Alif Rebu Wage (Aboge) dipercayai masyarakat bahwa tanggal 1 Ramadan jatuh pada hari Minggu, 2 Maret 2025. 

Penulis: Tito Isna Utama | Editor: khoirul muzaki
Tito Isna/Tribun Jateng
PETINGGI SUKODONO - Kepala Desa Sukodono, Sugiman saat ditemui di kantornya.Warga Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara memilik sistem sendiri untuk menentukan awal bulan puasa. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Bulan Ramadan biasanya ditentukan pemerintah melalui sidang Isbat dengan mengacu pada pantauan hilal di beberapa daerah, namun berbeda dengan warga Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara memilik sistem sendiri untuk menentukan awal bulan puasa.


Kepala Desa Sukodono, Sagiman mengatakan dalam penghitungan Alif Rebu Wage (Aboge) dipercayai masyarakat bahwa tanggal 1 Ramadan jatuh pada hari Minggu, 2 Maret 2025. 


Kemudian untuk Idul Fitri atau 1 Syawal jatuh pada hari Selasa pon, 1 April 2025. 


Meski demikian kata Petinggi Desa Sukodono, untuk pelaksanaan awal puasa Ramadan, masyarakat Desa Sukodono tetap mengikuti keputusan dari pemerintah. 

Baca juga: Pilu Pengusaha Penitipan Motor di Pabrik Sritex, Terlanjur Sewa Lahan Rp 105 Juta Tapi Pabrik Tutup


"Awal puasa tetap sama seperti pemerintah, cuma masyarakat sini punya tradisi penanggalan Aboge yang nyebutnya itu bukan 1 Ramadhan tapi tanggal 1 poso itu hari Minggu tanggal 2 Maret," kata Sagimana saat ditemui di Balai desa Sukodono, Jumat (28/2/2025).  


Menurutnya sistem penanggalan ataupun penentuan puasa hanya sebagai tradisi. 


Dia menjelaskan terdapat juga sebagian kecil warga Sukodono yang pelaksanaan awal puasa tetap mengikuti penanggalan Aboge. 


Ia menjelaskan sistem penanggalan tersebut memiliki rumus tersendiri yang akan berulang setiap 8 tahun sekali. 


Dalam penanggalan Aboge, 1 Ramadhan atau 1 Idul Fitri biasanya memiliki perbedaan sekitar 1-2 hari setelah penanggalan Hijriah. 


Satu hari sebelum tanggal 1 Ramadhan berdasarkan penanggalan Aboge.

Baca juga: Sempat Putus hingga Setop Laku Kereta Api, Jalur Rel di Papanrejo Grobogan Kembali Dikepung Banjir


Masyarakat desa Sukodono memiliki tradisi bersih-bersih makam leluhur. 


Tradisi tersebut tidak hanya diikuti oleh umat Islam, tetapi juga penganut agama lain yang ada di Desa Sukodono. 


"Sebelum puasa tapi menurut penanggalan Aboge, masyarakat Sukodono itu biasanya Megeng atau bersih kubur secara berbarengan di pagi hari dan diikuti seluruh komponen masyarakat. Ada Islam, Budha, Kristen, mereka ikut bergabung," tutupnya. (Ito)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved