Kamis, 23 April 2026

Berita Semarang

Festival Bubak Semarang, Angkat Sejarah dan Narasi Semarangan ke Ruang Publik

Festival Bubak, memiliki logo mozaik bergambar pelangi dengan seorang wanita yang wajahnya nampak seperti peri, wanita tersebut yakni Nyi Bubak.

|
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Rustam Aji
tribun jateng/Rezanda Akbar D.
Pembukaan Festival Bubak, Jumat (24/1/2025). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Untuk pemahaman sejarah Kota Semarang digelar Festival Bubak Semarang.

Festival Bubak, memiliki logo mozaik bergambar pelangi dengan seorang wanita yang wajahnya nampak seperti peri, wanita tersebut yakni Nyi Bubak.

Festival Bubak Semarang diinisiasi oleh Gambang Semarang Art Compeny (GSAC), untuk pemberdayaan ruang publik akan mengangkat kembali sejarah dan narasi Semarangan, mulai dari awal mula berdirinya sebuah kampung di Semarang.

Hal itu dijelaskan oleh Tri Subekso, Ketua GSAC.

Baca juga: Ibunda Osima Tak Kuasa Tahan Tangis saat Seah Terima Jenazah Putrinya

Dia mengatakan bahwa bubak punya arti membuka atau bukaan awal.

Sehingga pada festival ini, dirinya akan mengemas pertunjukan seni melalui kegiatan lomba bercerita ataupun pameran yang mampu memberikan inspirasi pada warga Semarang.

"Bahwa kita punya kebudayaan sesuatu yang melalui itu kita bertahan. Sebagai satu bangsa yang bermukim di Semarang yang multi etnis yang sangat majemuk ini," jelasnya, Jumat (24/1/2025).

"Jadi dari hasil diskusi bersama tim kurator kami sepakat melalui Festival ini kami ingin melahirkan sosok seorang perempuan tokoh fiktif tetapi, tokoh ini sebetulnya mudah kita jumpai dalam sejarah dalam narasi tentang mitos dan sebagainya dan berdirinya desa atau kampung," katanya.

Baca juga: Bukan Banyumas, Kebumen Digadang Jadi Ibu Kota Provinsi Jawa Selatan

Nyi Bubak akan menjadi Highlander yang bisa memasuki ke masa dan beragam peristiwa di empat tempat yakni Sekayu, Pecinan, Kauman dan Krapyak.

"Dia hadir meskipun dia sosok yang berbeda dia tetap nyi Bubak, yang Egaliter, menjadi seorang ibu, yang menjamin kebahagiaan bagi warga yang ada di dalam asuhan dan lindungannya," ujarnya.

Baca juga: Intensitas Hujan Masih Tinggi, DPRD Kendal Minta Pengerjaan Tanggul Darurat Kali Bodri Dipercepat

Sehingga logo itu memiliki filosofinya sangat dalam yang merepresentasi dari Nyi Bubak, yakni seorang perempuan atau ibu yang menguasai alam di Semarang

"Dia adalah cerita fiktif, tetapi dia sosok yang merawat masyarakat Semarang," tegas Tri. (Rad)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved