Berita Banjarnegara

Mengenal Tradisi Gethekan di Gumelem Banjarnegara, Ritual Syukur Paska Panen

Gethekan adalah kegiatan warga Gumelem paska panen berupa syukuran atas limpahan rizki dari Allah dengan makan bersama.

Editor: khoirul muzaki
Istimewa
Gethekan adalah kegiatan warga Gumelem paska panen berupa syukuran atas limpahan rizki dari Allah dengan makan bersama. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, Selain upacara adat Ujungan untuk meminta hujan kepada Allah dan juga Nyadran Gedhe, ternyata masyarakat Gumelem Banjarnegara memiliki kegiatan adat lain yang tak kalah menarik.

Salah satunya bernama Gethekan. Gethekan adalah kegiatan warga Gumelem paska panen berupa syukuran atas limpahan rizki dari Allah dengan makan bersama.


Kepala Desa Gumelem Wetan Arief Machbub mengungkapkan kegiatan ini adalah warisan leluhur yang dilaksanakan 6 bulan sekali. 


"Kegiatan ini perlu terus kita dukung dan lestarikan sebagai kearifan lokal. Saya yakin leluhur kita membuatnya untuk manfaat, maslahat dan barokah bagi warga Gumelem. Ini adalah bentuk among rasa, among raga dan among budaya," jelas Arief.

Baca juga: Sehari Terjadi 2 Peristiwa Longsor di Kebumen, Polisi Sebar Imbauan ke Warga Agar Waspada


Upacara didahului para warga yang rata-rata usia setengah baya membawa tenong atau keranjang bambu berisi nasi tumpeng dan lauk pauk beralas daun pisang.

Mereka membawanya ke Paseban Agung Gumelem. Juga dilaksanakan ziarah dan doa di Petilasan Ki Ageng Giring dan makam Ki Ageng Gumelem atau Kyai Hasan Besari.

Selanjutnya setelah sambutan dari kepala desa, juru kunci Sujeri berdoa dan acara diakhiri dengan makan bersama.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Heni Purwono menilai, kegiatan tersebut menandakan situs-situs Gumelem vital untuk dilestarikan dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya. 

Baca juga: Kantor Bea Cukai Purwokerto Latih Pengusaha UMKM Agar Bisa Ekspor Sendiri Produknya

"Masyarakat pendukung budaya Gumelem sangat aktif dalam memanfaatkan situs cagar budaya yang ada di sana. Maka sangat penting pemerintah segera menetapkannya sebagai cagar budaya.

Beberapa objek seperti pintu, pagar dan cungkup makam terlihat rusak dan perlu diperbaiki sesuai kaidah pelestarian cagar budaya. Jangan sampai budaya Gumelem yang dinamis terbengkalai dan tidak dirawat," ujar Heni.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved