Berita Jateng
Pulau di Tengah Samudera Karimunjawa Alami Kekeringan
Petinggi Desa Karimunjawa, Arif Setiawan mengatakan, bahwa saat ini warganya mengeluh kesulitan air bersih selama musim kemarau ini.
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: khoirul muzaki
Misalnya, instalasi masih sama ketika bersistem Pamsimas.
PDAM hanya menggunakan gravitasi air.
“Mestinya kalau profesional, misalnya saat kekeringan seperti ini, PDAM mendatangkan mesin pendorong. Supaya air tetap bisa mengalir lancar. Nyatanya tidak ada. Jadi dimana profesionalnya,” ucap Arif.
Menurut Arif, sumber air mestinya bisa dikelola oleh masyarakat dengan sistem Pamsimas.
Tahun lalu, pihaknya sudah bersurat hasil musyawarah desa kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.
Isinya, masyarakat Desa Karimunjawa meminta agar sumber air yang dikelola PDAM dikembalikan kepada masyarakat untuk dikelola secara swadaya.
“Tapi sampai sekarang surat itu tidak ada jawaban,” ungkap Arif.
Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Perencanaan PDAM Jepara, Aji Asmoro mengatakan bahwa untuk pengelolaan air itu diserahkan ke pihaknya pada tahun 2016.
"Dulu emang air Karimunjawa di kelola sendiri masyarakat tapi, pada 8 tahun lalu diserahkan ke pdam semuanya aset dan kas dan jumlah pelanggan 600 sama karyawan 3," kata Aji.
Dia mengaku tak bisa berbuat banyak menghadapi kondisi krisis air bersih seperti saat ini.
Sejauh ini, PDAM hanya mengandalkan air baku dari Legon Lele dan Legon Gobrak.
Baca juga: Alasan Shin Tae-yong Tak Bawa Adi Satryo PSIS untuk Bersaing dengan Maarten Paes di Timnas Indonesia
Pihaknya menyebutkan, setiap bulan September-Desember, debit air baku di sana selalu berkurang drastis.
“Setiap musim kemarau pasti kekurangan,” ujar Aji.
Di sisi lain, karena wiayah itu masuk dalam taman nasional, maka PDAM tidak boleh membuat sumur bor.
"Kami mengelola sumber yang ada, tidak bisa menambah. Kami menertibkan saja," tutupnya. (Ito)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Kekeringan-di-Karimunjawa.jpg)