Berita Banjarnegara

Horor Siswa di Sigaluh Banjarnegara Temukan Benda Aneh di Makam, Peninggalan Prasejarah?

Temuan ini sontak mengejutkan para siswa yang menilai bahwa benda tersebut bukanlah benda biasa, melainkan benda dari zaman purba.

Editor: khoirul muzaki
Istimewa
Siswa pada kelas mata pelajaran Sejarah Tingkat Lanjut di SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara mendapat penemuan mengejutkan di Desa Gembongan Sigaluh. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA- Kelas mata pelajaran Sejarah Tingkat Lanjut di SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara mendapat penemuan mengejutkan.

Saat menelusuri sungai Pundung dusun Brayut Desa Gembongan, siswa mengamati batu besar dengan goresan berbentuk figur ikan atau masyarakat lokal menyebutnya Watu Gunting atau Watu Supit Urang.

Namun yang menarik justru saat para siswa hendak kembali ke sekolah, salah satu siswa Zaki Lutfi menemukan batu hampir sebesar buah kelapa kecil dengan bagian tengah terdapat ceruk seperti lumpang.

Temuan ini sontak mengejutkan para siswa yang menilai bahwa benda tersebut bukanlah benda biasa, melainkan benda dari zaman purba.


"Kalau ini batu mainan anak misalnya, tidak lazim karena ditemukan di makam. Mana ada anak-anak yang berani bermain di makam. Atau kalaupun cekungan itu terbentuk dari tetesan air, juga tidak mungkin karena batu tersebut di pinggir sungai yang terbuka," jelas Zaki.

Baca juga: Sekolah Lapang Cuaca, Teknologi BMKG Bantu Nelayan Cilacap Tentukan Lokasi yang Banyak Ikannya


Saat dikonfirmasi tentang temuan tersebut kepada Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Aryadi Dewanto mengungkapkan bahwa akan sulit menyimpulkan makna sebuah temuan jika hanya melihat dari satu objek temuan saja.


"Kita harus melihat konteks temuan tersebut dan juga akan lebih baik jika kita komparasikan dengan temuan lain. Kalau hanya temuan satu benda, masih sulit menyimpulkannya," ujar arkeolog lulusan UGM ini.


Guru mata pelajaran Sejarah Tingkat Lanjut SMAN 1 Sigaluh Heni Purwono mengungkapkan kegiatan belajar di luar ruangan seperti ini lebih ditujukan agar siswa memiliki daya kritis terhadap lingkungan sekitarnya dan juga agar pembelajaran tidak membosankan hanya di dalam kelas.


"Mereka mulai memunculkan interpretasi sejarah terhadap temuan batu tersebut. Hal ini bagus agar memancing rasa ingin tahu siswa sehingga mereka tertarik untuk belajar," jelas Heni.


Mengenai penemuan batu berbentuk unik, Heni juga menambahkan bahwa hal itu menjadi momentum yang tepat menjelaskan kepada siswa tentang UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Baca juga: Deretan Pemain Indonesia yang Pernah Membela Brisbane Roar Sebelum Rafael Struick


"Temuan sesederhana apapun kita hargai dan perlakuan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya, sebagai bentuk kehati-hatian. Sehingga ketika siswa mungkin menemukan sesuatu di sekitarnya akan lebih berhati-hati dan tahu harus melaporkan ke mana, " katanya

Ia meyakini jika di kawasan sungai Pundung ini mungkin masih menyimpan banyak misteri dari masa pra sejarah. Apa lagi kalau melihat jalur peradaban manusia dari barat, kawasan Banjarnegara kan termasuk bagian dari Sunda Land.

"Kalau di Bumiayu, di Banyumas ada temuan-temuan pra sejarah, saya yakin di Banjarnegara juga ada. Hanya saja belum tersingkap. Nah tugas generasi mendatang inilah untuk menyingkap misteri itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan," tandas Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Jawa Tengah itu.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved