Selasa, 2 Juni 2026

Berita Bisnis

Siap-siap, Harga Beras dan BBM Diprediksi Naik Imbas dari Perang Palestina vs Israel

Harga beras dan BBM nonsubsidi di Indonesia diperkirakan bakal terus melambung sebagai imbas dari pecahnya perang Palestina vs Israel.

Tayang:
Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
ILUSTRASI. Sejumlah pekerja sedang menimbang beras di Pasar Baru Kudus sebelum dipasarkan ke konsumen, Senin (6/2/2023). Perang Palestina vs Israel diperkirakan bakal membuat harga beras dan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia melonjak. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Harga beras dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia diperkirakan bakal terus melambung sebagai imbas dari pecahnya perang Palestina vs Israel.

Direktur Center of Economi and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memaparkan, perang Palestina vs Israel bakal memicu pola investasi dari para investor.

"Dampak dari konflik Israel-Palestina akan memicu investor lakukan pergeseran (investasi) ke aset yang aman," ujar Bhima dikutip dari Tribunnews, Selasa (10/10/2023).

Pergeseran tersebut akan memicu dollar AS menguat secara jangka pendek.

Dollar indeks misalnya, menguat ke level 106.

Kondisi ini membuat Rupiah mengalami depresiasi terhadap dollar AS.

Harga harga barang impor akan semakin mahal, khususnya pangan.

"Contohnya, beras. Meskipun ada negara yang siap jual ke Indonesia tapi biaya impor berasnya dipengaruhi dolar AS sehingga beras impor harganya naik," kata Bhima.

Baca juga: Pecah Perang Palestina vs Israel, Ini Duduk Perkara hingga Kondisi Terkini

Selain beras impor, harga BBM akan lebih mahal.

Menurut Bhima, pilihan pemerintah apakah alokasi subsidi energinya naik atau diteruskan ke masyarakat membayar BBM lebih tinggi.

"Inflasi menjadi ancaman serius bagi daya beli domestik. Dampak lain adalah ketidakpastian bonanza komoditas, apakah akan terus berlanjut," terang Bhima.

Konflik di Timur Tengah yang memanas bisa menaikkan harga minyak mentah hingga 90-92 dolar AS per barrel.

Saat ini, dipasar spot, harga minyak berkisar 83 dolar AS per barrel.

"Meski naik, tetap belum mampu menandingi harga saat krisis minyak mentah 1973 yang saat itu menembus rekor kenaikan tertinggi dari 2 dollar AS per barrel menjadi 11 dollar AS per barrel atau naik 450 persen," tutur Bhima

Bhima mengatakan, faktor politik dan keamanan memang punya andil. Tapi, pasar minyak, akhir-akhir ini, cenderung mengalami anomali pasokan dan permintaan sekaligus.

Beberapa faktor yang membuat harga minyak tidak seliar 1973 adalah relaksasi pembatasan ekspor minyak dari Rusia yang diperkirakan menambah pasokan minyak global.

"Kemudian, belum jelasnya pemangkasan produksi minyak yang masih dibahas pada pertemuan Saudi Arabia dan Rusia pada November mendatang," kata Bhima

Baca juga: 10 WNI di Jalur Gaza Terancam akibat Perang Palestina vs Israel, Kemenlu Upayakan Evakuasi

Berapa banyak produksi yang dipangkas, ucap Bhima, masih teka teki.

Kemudian, faktor lain adalah dollar AS yang menguat menjadi kabar buruk bagi pemain komoditas minyak karena kekhawatiran banyak negara importir minyak mengurangi permintaan impor karena selisih kurs.

"China, sebagai negara konsumen energi yang besar sedang mengalami slowdown ekonomi hingga 2024 mendatang, dengan outlook pertumbuhan ekonomi 4,4 persen atau dibawah proyeksi Indonesia yang sebesar 5 persen."

"Industri di China tidak sedang ekspansi sehingga mempengaruhi demand minyak global," ujar Bhima.

Diketahui, Konflik Palestina vs Israel kembali pecah setelah Hamas melancarkan serangan mendadak ke kota-kota Israel pada Sabtu (8/10/2023).

Serangan itu menewaskan lebih dari 200 warga sipil Israel.

Sedangkan, lebih dari 230 warga Palestina tewas ketika Israel membalas dengan serangan balasan paling menghancurkan. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ekonom Sebut Harga BBM dan Beras Bakal Melonjak Imbas Perang Hamas Vs Israel, Ini Indikatornya.

Baca juga: Kemenkeu Lelang Barang Elektronik, Harga Limit PS5 Hanya Rp1 Juta. Berminat?

Baca juga: Disebut Saksi Kunci, Keterangan Kapolrestabes Semarang Ungkap Ada Tidaknya Pemerasan Pimpinan KPK

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved