Berita Pendidikan

PPDB SMA/SMK Negeri di Jateng Resmi Ditutup, 305.000 Lulusan SMP Harus Cari Alternatif ke Swasta

Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA dan SMK negeri di Jawa Tengah tahun ajaran 2022/2023, resmi ditutup Jumat (1/7/2022) pukul 16.00 WIB.

Penulis: amanda rizqyana | Editor: rika irawati
Istimewa
ILUSTRASI. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat meninjau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA dan SMK negeri di Jawa Tengah tahun ajaran 2022/2023, resmi ditutup Jumat (1/7/2022) pukul 16.00 WIB.

Diperkirakan, sekitar 305.000 lulusan SMP sederajat yang tak mendapat kursi di sekolah negeri.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Sekolah Menengah Atas (Kabid SMA) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah Syamsudin, Rabu (29/6/2022).

"Estimasi jumlah lulusan SMP/sederajat ada 522.000, sedangkan kuota negeri hanya 217.000 atau sekitar 41 persen daya tampung. Ada 59 persen yang mau tidak mau harus sekolah dan bisa sekolah di swasta," kata Syamsudin.

Baca juga: Kuota Kurang, PPDB 18 SMP Negeri di Jepara Diperpanjang hingga 25 Juni 2022. Berikut Daftarnya

Baca juga: Tiga Hari Dibuka, Kuota Daya Tampung Siswa Baru PPDB di SMP Negeri 1 Kendal Langsung Terpenuhi

Siswa yang terpental dari data sekolah negeri pilihan, harus mencari alternatif sekolah lain agar proses pendidikannya tidak terhambat.

Sayang, tak semua orangtua bisa menerima kondisi anaknya harus masuk sekolah swasta.

Hal tersebut diakui Joko Priyanto, warga Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang.

Putri Joko, tereliminasi dari daftar calon peserta didik atau gagal masuk di SMA Negeri 1 Semarang.

"Anak saya pengin banget sekolah di sini tapi namanya semakin turun dari daftar dan sekarang sudah hilang," ungkapnya, Kamis (30/6/2022).

Melihat kenyataan ini, ia harus mencari alternatif lain.

Agar tetap bisa belajar di sekolah negeri, putrinya akan mendaftar di SMK Negeri 2 Semarang atau SMK Negeri 9 Semarang jurusan perkantoran atau manajemen perbankan syariah.

Baca juga: Ada 7.190 Aduan Jalan Rusak di Jateng, Sebagian Telah Selesai Dikerjakan, Ini Data Lengkapnya!

Baca juga: Kerja Sama Pemprov Jateng dan KPPU RI, Ganjar: Bantu Edukasi Masyarakat

Sementara itu, Radit Prasetya, siswa SMP Negeri 36 Semarang, mengaku kebingungan karena tidak diterima di satupun sekolah negeri di Kota Semarang.

Meskipun ia memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) namun nilainya yang kurang membuat namanya terpental dari data calon peserta didik SMA maupun SMK negeri di Kota Semarang.

Tidak ada sekolah yang bisa menampungnya dengan nilai yang dimiliki.

"Saya nggak tau, saya bingung. Orangtua saya pasrah saya mau sekolah di mana," ujarnya. (*)

Baca juga: Rumah Penerima Bantuan PKH di Pekalongan Bakal Diberi Label, Wali Kota Aaf: Ini Bentuk Transparansi

Baca juga: Blangko STNK Habis, Ratusan Pemilik Kendaraan di Kudus Tak Kantongi Surat Tanda Nomor Kendaraan

Baca juga: Petugas Kesulitan Cari Pecahan Rp 500, Tarif Tunai Trans Semarang Naik Jadi Rp 4.000

Baca juga: Barang Koleksi Menpan RB Tjahjo Kumolo Tersimpan Rapi di Rumah Semarang, Mulai Lukisan hingga Motor

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved