Berita Banjarnegara
Cerita Jirno, Difabel Kutawuluh Banjarnegara: Tetap Produktif Bikin Pot Sabut Kelapa, Butuh Pengepul
Di ruang sepi di belakang rumah, Jirno (45), warga Dukuh Blimbing, Purwanegata, Banjarnegara, sibuk membuat pot bunga dari sabut kelapa.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Di ruang sepi di belakang rumah, Jirno (45), warga Dukuh Blimbing, Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegata, Banjarnegara, sibuk memasukkan sabut kelapa ke dalam rangka berbahan kawat.
Rangka tersebut menjadi dasaran Jirno membuat pot bunga. Ada yang berbentuk kubus, segitiga, juga corong.
Satu per satu pot dari sabut yang telah rampung dibuat, ditumpuk di ruang tamu agar mudah dilihat saat ada pengunjung datang.
Sebenarnya, rumah yang ditempati Jirno ini bukan milik pribadi. Dia menumpang tinggal di rumah saudara.
Keterbatasan fisik dan harus berkegiatan di atas kursi roda memang membuat ruang gerak Jirno terbatas.
Meski begitu, Jirno tetap bersemangat menghasilkan kerajinan bernilai jual.
Baca juga: Semoga Ada Dermawan Buat Jirno, Difabel Asal Banjarnegara Ini Butuh Biaya Tambahan Modifikasi Motor
Baca juga: Wisatawan Mengeluh, Jalan Menuju Karang Gemantung Banjarnegara Terjal: Harus Jalan Kaki 2 Kilometer
Baca juga: 41 Peserta Adu Kreatif Bikin Video Pendek di Lomba Hari Bhayangkara yang Digelar Polres Banjarnegara
Baca juga: Belajar dari Riswati, Dokter RSI Banjarnegara: Kaum Hawa Jangan Sepelekan Kista, Fatal Akibatnya
Ia tak ingin menjadi beban bagi orang lain. Meski ia sadar, dalam kondisinya yang demikian, ia tetap butuh bantuan orang di sekitar.
"Biar tidak merepotkan orang lain, saya ingin ada pemasukan," katanya, Senin (28/6/2021).
Sebuah kecelakaan kerja yang dialami pada 2016, telah mengubah jalan hidupnya.
Ia yang merantau ke Kalimantan untuk meraih kesejahteraan, justru harus pulang dengan tubuh pesakitan.
Kecelakaan tersebut membuat punggungnya harus dipasang pen. Sementara kakinya, belum bisa berjalan.
Jirno sempat terpuruk dan sulit menerima kenyataan tersebut. Apalagi, saat nyeri di tubuh terasa tak tertahankan.
Dia pun harus bergantung pada obat penahan nyeri agar bisa tidur.
Tetapi, perlahan, Jirno mulai bisa menerima keadaan. Ia menahan rasa sakit dengan bacaan istigfar. Ia mengisi hari-harinya dengan meningkatkan amal. Di situ ia merasakan kedamaian.
Semangat hidup Jirno pun kembali bangkit. Ia berusaha mandiri dan sebisa mungkin tidak merepotkan.