Pilpres AS
Tragedi Rasial Membuat Jumlah Pemilih Kulit Hitam di Pilpres AS 2020 Meningkat
Koordinator negara bagian Pennsylvania untuk Black Voters, Matter Britanny Smalls, mengatakan, pemilih Afrika-Amerika lebih banyak dibanding 2016.
TRIBUNBANYUMAS.COM - Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 tinggal menghitung jam. Warga Amerika akan merayakan pesta demokrasi pada 3 November 2020.
Mereka memiliki dua calon yang bersaing untuk memperebutkan kursi kepresidenan dan memimpin selama empat tahun ke depan.
Pilpres AS tahun ini memiliki lebih banyak pemilih di banding Pemilu AS 2016 lalu.
Terkait Pilpres AS, Koordinator negara bagian Pennsylvania untuk Black Voters, Matter Britanny Smalls, mengatakan, pemilih Afrika-Amerika lebih banyak dibanding 2016 lalu.
Mengutip Al Jazeera, menurut pengalamannya, pemilih kulit hitam di Pennsylvania lebih terlibat dalam Pilpres AS 2020 ini.
Baca juga: Jelang Pemungutan Suara 3 November, Hasil Jajak Pendapat: Joe Biden Raih 51 Persen Suara dari Trump
Baca juga: Debat Final Capres AS: Ini Perbedaan Sikap Donald Trump dan Joe Biden Terkait Lockdown Covid-19
Baca juga: Kalah dari Joe Biden di Pilpres? Sambil Bergurau, Donald Trump Mengaku Akan Tinggalkan AS
Baca juga: Debat Cawapres AS: Kamala Harris Olok-olok Kebijakan Trump Tangani Pandemi Covid-19
Penduduk Philadelphia, 42 persennya adalah orang Afrika-Amerika.
Pada tahun ini, lebih dari 90 persen pemilih yang memenuhi syarat di kota itu terdaftar.
Pennsylvania memiliki 1,1 juta pemilih terdaftar, ini merupakan jumlah tertinggi sejak 1984.
"Kebanyakan orang yang saya ajak bicara benar-benar terlibat dalam proses tersebut (Pilpres AS)," kata Smalls melalui telepon, Jumat (30/10/2020).
"Mereka sangat antusias mengikuti siklus pemilu ini," terangnya.
"Kami memiliki beberapa orang yang masih tidak yakin siapa yang akan mereka pilih tetapi kami sangat senang mengetahui bahwa mereka masih ingin berpartisipasi," tambahnya.
Tragedi Rasial
Lebih jauh, Smalls juga menyoroti insiden belum lama ini.
Diketahui, pada 26 Oktober 2020 kemarin, terjadi penembakan polisi terhadap Wallace Jr, pria kulit hitam.
Smallls mengaku merasa cukup dengan kejadian-kejadian menyakitkan seperti itu.