Liga 1 2020
Subsidi Bulanan Tambah Rp 300 Juta, CEO PSIS Semarang: Nilainya Masih Kurang Ideal
Manajemen PSIS Semarang rupanya kurang puas dengan ketetapan dinaikkannya nilai subsidi senilai Rp 800 juta.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Status kompetisi Liga 1 2020 yang sempat terhenti pada pekan ketiga Maret 2020, kini sudah pasti akan dilanjutkan kembali pada 1 Oktober 2020.
Hal tersebut sesuai dengan yang tertuang dalam surat edaran PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku pemegang roda berjalannya kompetisi.
Namun, kelanjutan kompetisi sepak bola paling elit di Tanah Air tersebut, harus dijalankan dengan sejumlah perubahan regulasi.
• PSIS Semarang Gunakan Dua Lokasi Ini, Pusat Latihan Tim Mahesa Jenar Selama Kompetisi Liga 1
• Liga 1 Dilanjutkan Tanpa Penonton, Pentolan Suporter PSIS Semarang: Sudah Tidak Menarik Lagi
• Trio Brazil Lagi Pulang Kampung, Belum Dipanggil ke Semarang, Liluk: Kami Tunggu Kepastian Dahulu
• Jadwal Latihan PSIS Semarang, Dragan Djukanovic Usulkan Mulai 1 Agustus, Ini Alasan Sang Pelatih
Selain digelar tanpa penonton, PT LIB juga membuat keputusan seluruh pertandingan dipusatkan di Pulau Jawa.
Kabar terbaru, pasca manager meeting virtual, ada aturan Liga 1 2020 juga mengalami perubahan regulasi terkait subsidi bulanan untuk 18 klub peserta.
Semula, PT Liga Indonesia Baru (LIB) memberikan subsidi kepada para kontestan Liga 1 2020 sebesar Rp 500 juta per bulan.
Jumlah itu meningkat menjadi Rp 800 juta per bulan saat Liga 1 2020 sudah kembali bergulir.
Menanggapi hal itu, manajemen PSIS Semarang rupanya kurang puas dengan ketetapan dinaikkannya nilai subsidi senilai Rp 800 juta.
CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi mengatakan, nilai tersebut kurang ideal.
Terlebih kompetisi dijalankan dengan status extraordinary competition karena masih dalam masa pandemi Covid-19.
Manajemen PSIS Semarang merasa subsidi tersebut masih kurang mencukupi.
Hal itu karena akan tidak ada pemasukan dari segi tiket penonton yang menjadi sumber pemasukan terbesar klub.
"Kami pikir subsidi Rp 800 juta itu sangat kurang karena kompetisi Liga 1 dilanjutkan tidak seperti biasanya."
"Sebagai contoh, PSIS itu salah satu pemasukan terbesarnya dari hasil penjualan tiket."
"Kami dalam setahun, manajemen bisa mendapat pemasukan sekira Rp 20 miliar hasil dari menjual tiket pertandingan," kata Yoyok kepada Tribunbanyumas.com, Senin (20/7/2020).