Berita Banjarnegara
Kesulitan Menjual, Petani Banjarnegara Biarkan Salaknya Busuk di Pohon: Susah, Mobilitas Terbatas
Petani Banjarnegara Biarkan Salaknya Membusuk di Pohon. hal ini karena mereka kesulitan menjual hasil panen, karena Mobilitas yang Terbatas
Penulis: khoirul muzaki | Editor: yayan isro roziki
Di masa pagebluk ini, harga salak mendadak terjun bebas. Salak petani belakangan hanya dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram. Sudah begitu, kini tak ada pedagang yang datang.
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Nasib petani di Desa Kayuares Kecamatan Pagentan mungkin mewakili penderitaan petani salak di tempat lain di Banjarnegara.
Semenjak wabah virus corona mengganas di negeri ini, sejak tiga pekan terakhir, harga salak terus anjlok.
Wanidi, warga Desa Kayuares mengatakan, lantaran susah dalam soal penjualan, sebagian petani membiarkan salak-salak miliknya membusuk di pohon.
Ia mengatakan, normalnya, harga salak di tingkat petani sekitar Rp4.500 per kilogram. Dengan harga demikian, petani beroleh untung.
• UPDATE Virus Corona di Indonesia, 8 April: Pasien Positif Corona Nyaris Tembus 2.000 Kasus
• Sikap Tegas PT KAI, Penumpang Tidak Kenakan Masker Dilarang Naik Kereta Api
• Semua Orang yang Masuk Kebumen Dipakaikan Gelang Penanda, 6 Titik Perbatasan Dijaga Tim Gabungan
• PSIS Semarang Isi Kegiatan Saat Libur Karena Virus Corona dengan Lelang Jersey Pemain hingga CEO
Tetapi di masa pagebluk ini, harga salak mendadak terjun bebas. Salak petani belakangan hanya dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram.
"Harga anjlok semenjak wabah Corona," katanya.
Petani salak di Banjarnegara kini tengah memasuki masa sulit.
Bukan hanya harganya yang anjlok, kini petani di Desa Kayuares harus kembali menelan pil pahit.
Akhir-akhir ini tengkulak sudah jarang mendatangi lahan petani untuk membeli hasil pertanian mereka.
Truk-truk pengangkut salak yang biasa keluar masuk desa tak lagi tampak.
• Pengusaha Jamu Bantu Pemkab Cilacap Lawan Virus Corona, Mereka Lakukan Ini
Alhasil produk petani tidak terserap pasar.
Terlebih petani selama ini sangat bergantung kepada tengkulak untuk memasarkan salak.
Wanidi menilai kondisi ini merupakan imbas dari wabah virus corona.
Distribusi salak ke luar kota atau provinsi jadi terhambat.