Senin, 25 Mei 2026

Opini

Ramadan Ini Belajar Islam dan Arab dari Philip K Hitti

Ia menekankan pentingnya memahami konteks sejarah dalam mempelajari Arabisme, termasuk faktor geografis, ekonomi, dan sosialnya.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
ISTIMEWA/dok. penulis
TELAAH ISLAM DAN ARAB - Penulis Yudhie Haryono, Pengasuh Pesantren Yusufiyah, dengan buku History of The Arabs, karya Philip K. Hitti. 
Ringkasan Berita:
  • Ramadan ini, aku masuk dan dalam sunyi, kutemukan karya guruku yang tak pernah lenyap dari ingatan: buku History of the Arabs (1937) yang ditulis oleh Philip Khuri Hitti.
  • Pada mulanya, buku History of The Arabs menggambarkan kondisi geografi tanah Arab, dan keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam.
  • Selanjutnya, menuliskan kedatangan Islam, serta kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Lalu, tersaji 39 bab yang dahsyat.
  • Siapa Hitti?

TRIBUNBANYUMAS.COM - Kotor dan berdebu. Begitulah nasib perpus dan tumpukan buku-bukuku. 

Ramadan ini, aku masuk dan dalam sunyi, kutemukan karya guruku yang tak pernah lenyap dari ingatan: buku History of the Arabs (1937) yang ditulis oleh Philip Khuri Hitti.

Kebetulan, ramadan tahun ini (2026), kami mau bedah 3 buku yang mirip isinya dari karya Philip K. Hitti, Albert Hourani dan Eugene Rogan.

Ketiganya penulis dan sejarawan dahsyat.

Itu terlihat dari karya-karyanya yang sangat serius: tebal dan kaya sekali bibliografinya. Kita pasti kesulitan jika mencari tandingannya di Indonesia.

Pada mulanya, buku History of The Arabs menggambarkan kondisi geografi tanah Arab, dan keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam.

Selanjutnya, menuliskan kedatangan Islam, serta kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Lalu, tersaji 39 bab yang dahsyat.

bedah buku-nusantara center
BEDAH BUKU - Kajian tentang buku-buku Islam di Nusantara Centre selama Ramadan 2026.

Hitti, tentu saja sejarawan dan orientalis terkemuka dari Lebanon-Amerika yang lahir pada 22 Juni 1886 di Shimlan, Lebanon.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Kabupaten Tegal, Ramadan Hari ke-3, Sabtu 21 Februari 2026

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan studi Arab dan Timur Tengah di Amerika Serikat. Bisa dibilang, ia don-nya.

Hitti memperoleh gelar sarjana dari American University of Beirut (1908) dan melanjutkan pendidikannya di Columbia University, guna meraih doktor (1915).

Ia kemudian menjadi profesor di Princeton University dan mendirikan program studi Timur Tengah yang pertama di Amerika Serikat.

Hitti menulis beberapa buku penting, termasuk "History of the Arabs" (1937), "The Syrians in America" (1924), dan "Makers of Arab History" (1968).

Ia konsultan untuk pemerintah Amerika Serikat dan berperan dalam pengembangan kebijakan Timur Tengah.

Coba bayangkan, ia menghabiskan 10 tahun untuk meriset dan menuliskan buku ini serta mendapatkan sokongan (beasiswa) penuh untuk kerjanya.

Adakah kita punya tradisi seperti ini?

Hitti tentu punya posisi pikiran yang provokatif karena berbau orientalis tetapi memiliki kontribusi besar dalam memahami sejarah dan budaya Arab bagi warga dan komunitas akademik Amerika.

Ia menganggap bahwa sejarah Arab adalah bagian dari sejarah dunia, bagian integral dari sejarah semesta, bukan sebagai entitas yang terisolasi.

Karenanya, ia menekankan pentingnya memahami konteks sejarah dalam mempelajari Arabisme, termasuk faktor geografis, ekonomi, dan sosialnya.

Hitti juga menghargai kekayaan budaya Arab, termasuk sastra, seni, dan ilmu pengetahuan yang menjadi faktor penting dalam membentuk sejarah Arab, sambil percaya adanya pengaruh lain seperti budaya Yunani dan Persia.

Untuk itu, Hitti berusaha mempertahankan objektivitas dalam penelitiannya, meskipun ia memiliki latar belakang Kristen Maronit.

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kabupaten Banyumas Sabtu 21 Februari 2026

Beberapa kritikus menyebutkan bahwa Hitti cenderung memandang Islam dan Arab dari sudut pandang Barat.

Ia dituduh memiliki kecenderungan untuk mengurangi peran Islam dalam membangun kebudayaan dunia.

Dalam hal usaha membandingkan (komparatif) Alquran dengan Perjanjian Baru, terlihat Hitti memiliki fanatisme terhadap agamanya sendiri, yaitu Kristen Maronit, sehingga mempengaruhi penilaiannya terhadap Islam dan Arab.

Tetapi, ini masih dalam batas kewajaran dan penulis bisa menolerirnya.

Membaca karya Hitti, kita dapat berhipotesa bahwa islam itu banyak, dan jalan memahaminya begitu kaya, berserakan serta ribut dan perang antar mereka begitu nyata.

Membacanya seperti kisah embun pengetahuan yang tak memilih daun.

Kebaikan iptek dan informasi datang tanpa memandang siapa yang menerimanya.

Aku membaca bukunya saat gerimis malam telah berhenti pelan-pelan, lalu suasana mistis pergi perlahan. Dunia kembali memeluk sepi dan keterkejutan. Atas revolusi pemikiran dan pengkhianatan.(*)

Penulis: Yudhie Haryono | Pengasuh Pesantren Yusufiyah

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved