Senin, 8 Juni 2026

Berita Kendal

5 Tahun Terendam Banjir Rob, Warga Pilangsari Kendal Menanti Giant Sea Wall

Atasi rob di pesisir Kendal, DKP sebut wilayahnya masuk skema proyek tanggul raksasa pemerintah.

Tayang:
Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: Rustam Aji
Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah
BERTAHAN DI TENGAH ROB - Kondisi rob di wilayah pesisir Kabupaten Kendal yang terjadi rutin tahunan, Senin (8/6/2026). Tak hanya masuk ke rumah, rob juga merusak lahan pertanian warga yang menyebabkan kerugian ratusan juta. 

Ringkasan Berita:
  • Setiap musim rob tiba, air laut perlahan masuk ke rumah-rumah warga Dusun Pilangsari, Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon. 
  • Warga RT 2 Dusun Pilangsari, Kusmiyati bercerita fenomena itu sudah 5 tahun jadi tamu tahunan yang masuk tanpa permisi.
  • Kusmiyati tak punya pilihan lain selain bertahan meski mengalami rob langganan.

TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL — Wilayah pesisir Pantura Kabupaten Kendal resmi masuk dalam skema besar pembangunan tanggul raksasa (giant sea wall) oleh pemerintah pusat.

Langkah megaproyek ini direncanakan sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi bencana banjir rob tak berkesudahan yang selama bertahun-tahun merendam permukiman warga dan melumpuhkan sektor produktif di daratan pesisir.

Kepastian tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo. Rencana pembangunan infrastruktur pengendali gelombang laut ini merupakan hasil tindak lanjut dari koordinasi tingkat tinggi bersama jajaran kementerian terkait.

"Berdasarkan hasil rapat sewaktu bersama Bapak Menteri Agus Harimurti Yudhoyono beberapa waktu lalu, Kendal masuk rencana pembangunan tanggul raksasa atau giant sea wall," ungkap Hudi kepada Tribunjateng.com, Senin (8/6/2026).

Kendati demikian, pihak DKP belum memaparkan secara spesifik mengenai lini masa pelaksanaan proyek maupun titik awal pemancangan struktur tanggul tersebut. Sebagai langkah awal proteksi, pemerintah daerah dilaporkan telah mulai menggulirkan sosialisasi tata ruang pembangunan kepada masyarakat yang tinggal di koridor pesisir Kendal.

Baca juga: Ambulans Desa Kerap Dipakai Kades ke Luar Kota, Warga Marongsari Wonosobo Gelar Aksi Protes

Ratusan Rumah Terdampak dan Petani Merugi Ratusan Juta

Urgensi penanganan permanen di area pantai utara ini selaras dengan kondisi memprihatinkan yang saban tahun dihadapi warga Dusun Pilangsari, Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon. Kepala Desa Pidodokulon, Didik Prastiawan, membeberkan bahwa genangan air asin kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan sosial warganya.

"Ada dua wilayah RT, yaitu RT 2 dan RT 3 dengan total sekitar 100 rumah yang terdampak banjir rob. Selain itu, lahan pertanian produktif, tegalan, hingga tambak ikan dengan luas mencapai 50 hingga 100 hektar juga ikut terendam," urai Didik.

Siklus rob yang tak kunjung surut ini membuat para petani setempat merugi ratusan juta rupiah akibat gagal panen. Padahal, dalam kondisi normal, kawasan lahan pertanian dan tegalan tersebut menjadi tumpuan logistik warga untuk ditanami padi serta komoditas palawija.

Kusmiyati, salah seorang warga RT 2 Dusun Pilangsari, menuturkan bahwa fenomena air pasang laut ini telah menjadi "tamu tahunan" yang menyambangi rumah mereka tanpa permisi selama 5 tahun terakhir.

Dalam sebulan belakangan, air asin yang bersifat korosif terpantau mulai merayap naik dan menggenangi lantai rumah setiap sore hari, lalu baru perlahan surut pada malam dan pagi hari.

Baca juga: Gunakan Modus Skema Ponzi, Eks Pegawai Berprestasi Bank Mandiri Taspen Purwokerto Tipu Pensiunan

Ekskalasi Penanaman Mangrove Jadi Benteng Swadaya

Di tengah penantian realisasi proyek fisik dari pemerintah pusat, masyarakat Desa Pidodokulon tidak tinggal diam. Sejak tahun 2020, pemerintah desa bersama warga terus masif menginisiasi langkah mitigasi mandiri berupa ekskalasi penanaman mangrove secara berkala.

"Warga secara gotong royong aktif membantu menanam mangrove rutin setiap bulan, bahkan hingga dua minggu sekali," imbuh Didik.

Gerakan hijau di pesisir ini juga kerap mendapat dukungan dari berbagai komunitas pecinta alam, lembaga pemerintahan, hingga sektor swasta. Meski tidak secara instan menghentikan laju intrusi air laut, vegetasi bakau tersebut diakui mulai memberikan dampak positif bagi lingkungan hunian warga.

"Iya, aksi ini cukup membantu meski dampaknya tidak langsung. Setidaknya bisa sedikit mengurangi tinggi gelombang rob yang masuk ke perkampungan kami," pungkas Kusmiyati. (ags) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved