Kamis, 11 Juni 2026

Berita Jateng

Geger Api Abadi Mrapen Grobogan Padam, ternyata tak Ada yang Abadi

Mereka menilai penyebab nyala api Mrapen mulai meredup karena kondisi cuaca hujan

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: khoirul muzaki
KOMPAS.COM/PUTHUT DWI PUTRANTO NUGROHO
Pengelola Api Abadi Mrapen memastikan Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah telah padam, Minggu (3/10/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pengelola tempat wisata Api Abadi Mrapen sudah melihat api abadi tersebut mulai meredup pada akhir 2025 lalu. 


Mereka menilai penyebab nyala api Mrapen mulai meredup karena kondisi cuaca hujan. Namun, api abadi tersebut justru padam pada 1 Januari 2026 lalu baru diperiksa pada 3 Februari 2026.


"Ya pada tanggal 29 Desember 2025 nyala api mulai meredup, tetapi baru padam pada 1 Januari persisnya dipukul 07.00 WIB," kata Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi saat dihubungi.


Menurut Annas, para petugas di Mrapen pada awalnya mengira kondisi api tersebut padam karena berkaitan dengan cuaca yang akhir-akhir ini terjadi berupa hujan deras.

 Akan tetapi, selepas diperiksa oleh Dinas ESDM Jateng ternyata api padam karena pipa penyambung gas tersumbat lumpur.

"Informasinya  akan ada perbaikan sekitar mungkin seminggu untuk membersihkan sumbatan lumpur tersebut," terangnya.

Ia menyebut, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun 2020. Ketika itu, penyebab matinya api Mrapen berbeda yakni adanya pengeboran ilegal di lingkungan sekitar Mrapen.


Selepas kejadian itu, terbit peraturan Desa setempat yang melarang aktivitas pengeboran maupun penggalian sumur di dekat Mrapen.


"Terutama penggalian sumur  lebih dari 10 meter," bebernya.

Baca juga: Polisi Ungkap Kronologi ODGJ Ngamuk Tewaskan Anggota Satpol PP Kebumen


Gratiskan Tiket masuk Wisata


Imbas dari padamnya api Abadi Mrapen, pengelola wisata menggratiskan tiket kunjungan selama sebulan terakhir.

 Harga tiket masuk ke kawasan wisata tersebut dipatok Rp2.500 per orang. Tiket gratis akan diberlakukan sampai Api Abadi Mrapen menyala kembali.


"Kalau jumlah pengunjung ke sini kurang lebih  1.000 orang perbulan," bebernya.

Meskipun Api Abadi Mrapen padam, Annas menawarkan spot wisata lainnya yaitu Batu Bobot dan Sendang Dudo. 

Menurutnya, padamnya api Mrapen juga tidak berpengaruh ke jumlah pengunjung.

 "Ya masih stagnan di angka 1.000 pengunjung, tapi mereka datang ada juga yang penasaran apakah api abadi Mrapen benar-benar padam," terangnya.

Terjunkan Tim Ulik Penyebab Padamnya Api Abadi

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  Jawa Tengah menerjunkan tim untuk meneliti penyebab padamnya Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, kabupaten Grobogan, Selasa (3/1/2026).

Api Abadi Mrapen merupakan tempat wisata yang menyuguhkan sumber api alami yang muncul dari aktivitas alamiah gas bumi di kawasan tersebut.


Tempat itu  tersohor lantaran menjadi sumber nyala api obor pesta olahraga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).

Bagi warga sekitar, api Mrapen juga dikaitkan dengan cerita persinggahan Sunan Kalijaga dan dikaitkan dengan Empu Supo, seorang ahli pembuat keris sakti di zaman Majapahit.

Tempat itu dianggap sakral sehingga besar meredupnya api abadi Mrapen selalu dikaitkan sebagai pertanda bahaya seperti munculnya bencana alam.

"Iya, kami terjunkan tim hari ini ke Mrapen Grobogan untuk menyelidiki penyebab Kematian api tersebut," ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah,  Agus Sugiharto.

Nyala Api abadi Mrapen mulai meredup pada 29 Desember 2025. Kemudian api benar-benar padam pada 1 Januari 2026. Ketika itu, petugas wisata Mrapen belum mengetahui penyebab padamnya api tersebut.

Agus menjelaskan, api abadi Mrapen bisa saja padam karena rekahan-rekahan sebagai penyalur gas ke  reservoir atau tempat sumber gas terhambat oleh sedimen atau kerak di antaranya lumpur.

Ia juga menyebut, sumber gas dalam reservoir tersebut dimungkinkan juga berkurang karena telah berusia ratusan tahun. Terlebih, di sekitar Mrapen sebelumnya ada aktivitas penggalian sumur yang mempercepat berkurangnya gas dalam reservoir.

"Kami sedang mengupayakan mencari sumber penyumbatannya tersebut, semisal tersumbat oleh sedimen lumpur kami masih cari titik lokasinya di mana agar nanti kami perbaiki," jelasnya.

Ia tidak memungkiri sumber gas abadi Mrapen juga bisa habis. Kejadian matinya sumber api ini juga pernah terjadi pada September 2020. Kala itu, penyebab padamnya Mrapen karena ada proses pelapukan secara fisika maupun kimia di rekahan-rekahan yang menjadi tempat saluran gas ke api Mrapen.

Pihaknya kini masih mencari sumber gas lainnya semisal sumber gas Mrapen ini nantinya sudah habis. "Di dunia itu tidak ada keabadian yang abadi itu ketidakabadian itu sendiri.  

Artinya semuanya itu faktor alam. Tahu sendiri yang namanya gas itu kan sumber energi yang tidak terbarukan," katanya.

Sedimen Tertutup Lumpur


Kepala Bidang Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono mengungkap, hasil kajian timnya di lapangan,  sumur gas Api Abadi Mrapen tertutup lumpur sehingga api tersebut padam.

"Intinya gas ini tertutup sama lumpur, jadi terhambat jalannya gas itu," jelasnya.

Kendati begitu, ia mengklaim sumber gas penyuplai api abadi mrapen itu masih mencukupi.

Pihaknya kini tinggal membuka sumbatan itu agar gas kembali lancar mengalir.
Proses pengerjaan pembersihan ini ditargetkan bakal rampung selama satu minggu.

"Nanti pakai teknik flushing yakni pembersihan agar lumpur-lumpur yang menyumbat bisa terangkat, gasnya bisa mengalir kembali," terangnya. (Iwn)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved