Berita Jateng
Bajaj Mulai Mengaspal di Kota Semarang, tak Sekadar Nostalgia
Bajaj online Maxride perlahan mencuri perhatian warga yang penasaran merasakan sensasi naik kendaraan yang dulu identik dengan Jakarta.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Suara deru mesin kendaraan roda tiga dan bodi mungil berwarna cerah belakangan makin sering terlihat menyusuri jalan-jalan Kota Semarang.
Bajaj online Maxride, yang baru beberapa pekan hadir, perlahan mencuri perhatian warga yang penasaran merasakan sensasi naik kendaraan yang dulu identik dengan Jakarta.
Di antara yang mencoba adalah Eca Nugraha, pekerja swasta bersama teman-temannya yang sengaja memesan satu unit hanya demi tahu seperti apa rasanya “keliling Semarang naik bajaj”.
Eca sudah pernah naik bajaj, bahkan sejak berkunjung di Jakarta dan Banjarmasin.
Tetapi perjalanan kali ini terasa lain; bukan karena bajajnya, melainkan karena kota yang ia lalui.
“Feel-nya itu biasa aja, karena saya sudah biasa naik bajaj. Tapi jadi spesial karena keliling Semarang naik bajaj,” ujar Eca, Kamis (27/11/2025).
Baca juga: Dua Aktivis Semarang Ditangkap, WALHI Menilai Ada Pembangkangangan terhadap Perintah Kapolri
Rute perjalanannya cukup panjang untuk ukuran perjalanan iseng.
Dari Jalan Singosari, driver membawanya menyusuri MT Haryono menuju Kota Lama.
Di kawasan cagar budaya itu, mereka sempat berhenti sejenak.
Eca turun, memotret gedung-gedung tua, sementara bajajnya menunggu dengan suara mesin yang terus berdengung pelan.
Perjalanan berlanjut ke arah Pelabuhan Tanjung Emas sebelum kembali ke Singosari lewat Simpang Lima.
Di beberapa titik, terutama jalan paving di kawasan Kota Lama, guncangan tak terhindarkan.
“Setelah naik itu pusing. Mungkin karena goyang-goyang di dalam bajaj, atau jalannya yang naik turun. Tapi lucu juga, nostalgia banget,” ucapnya sambil tertawa.
Eca mengatakan bentuk bajaj Maxride yang ia tumpangi tampak lebih modern dibanding bajaj lawas yang ia kenal dulu.
Baginya, itu cukup menambah sensasi baru.
Ia juga menilai tarifnya terjangkau, apalagi kapasitasnya bisa menampung tiga orang sehingga biaya mudah dipatungan.
“Dulu harus nyegat di jalan. Sekarang tinggal klik aplikasi, bajaj datang. Lebih rapi,” tambahnya.
Bukan hanya anak muda yang penasaran. Sri Nuryani, warga Semarang Selatan, mencoba layanan yang sama beberapa hari sebelumnya.
Ia memesan bajaj untuk mengantar dirinya dan dua anaknya berbelanja ke Pasar Karangayu sekalian “jalan-jalan kecil”.
Alasan utamanya sederhana: bajaj bisa masuk ke gang kecil di dekat rumahnya, sesuatu yang tak bisa dilakukan mobil.
“Anak-anak senang banget. Katanya lucu, rodanya tiga, suaranya beda. Mereka ketawa terus sepanjang jalan,” tutur Sri.
Bajaj Maxride, baginya, praktis. Muat bertiga, belanjaan aman, dan harganya tak memberatkan. Setelah dari pasar, mereka sempat meminta driver memutar melewati Taman Indonesia Kaya agar anak-anak bisa menikmati pemandangan.
Sri hanya mengingat satu tantangan: guncangan saat melewati beberapa titik jalan yang bergelombang. Namun itu tak mengurangi penilaiannya.
“Yang penting aman dan drivernya sabar. Bawa anak-anak itu butuh hati-hati. Dan saya nggak khawatir kalau tiba-tiba hujan karena lebih tertutup. Buat refreshing sambil belanja, pas banget,” ujarnya.
Hadirnya bajaj online ini membawa kembali ingatan akan moda transportasi yang sempat lama absen dari kota.
Bedanya, kini bajaj bukan lagi kendaraan yang dihentikan di jalan, melainkan hadir lewat notifikasi aplikasi.(Rad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/BAJAJ-SEMARANG.jpg)