Minggu, 26 April 2026

Berita Banyumas

Ruang Pusaka Banyumas Dibuka untuk Umum, Keris dan Tombak Dilengkapi Barcode

Ruang pusaka di Pendopo Si Panji Banyumas kini dibuka untuk umum. Ruang ini berisi koleksi keris, tombak, juga jimat.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
PUSAKA BANYUMAS - Penanggung jawab ruang pusaka Banyumas, Dwi Hana Wibawa, menunjukan keris pusaka di ruang pusaka Banyumas di komplek Pendopo Si Panji, Purwokerto, Minggu (26/4/2026). Ruang pusaka yang dulu sempat ditutup kini dibuka untuk umum. 
Ringkasan Berita:

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pintu sebuah ruangan di Pendopo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Jawa Tengah, dulu nyaris tak pernah terbuka. 

Disakralkan, dijaga dalam sunyi, dan hanya disentuh oleh mereka yang dipercaya.

Namun kini, ruang pusaka yang selama puluhan tahun terbungkus aura mistis itu justru perlahan disibak.

Auranya mengundang publik untuk melihat lebih dekat, bahkan memahami tidak semua yang tampak gaib harus dijelaskan dengan hal-hal tak kasat mata.

Di dalam ruangan itu, sekitar 120 koleksi pusaka berupa keris, tombak, dan jimat, tersusun rapi.

Sebagian adalah peninggalan para bupati terdahulu, sebagian lain berasal dari tokoh-tokoh bersejarah yang jejaknya masih melekat dalam ingatan Banyumas.

Kini, seluruh koleksi tersebut tidak hanya dirawat, tetapi juga didokumentasikan dengan pendekatan modern.

Baca juga: Kirab Pusaka HUT Banyumas Meriah, Bupati Sadewo Berharap Banyak Investor Datang dan Warga Sejahtera

Aparatur Sipil Negara (ASN) Bagian Protokol sekaligus penanggung jawab ruang pusaka Banyumas, Dwi Hana Wibawa, menjadi satu di antara sosok di balik perubahan tersebut.

"Dulu, ruangan ini sangat disakralkan dan tidak semua orang boleh masuk."

"Sekarang sudah dibuka untuk umum, tentu dengan prosedur tertentu," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Minggu (26/4/2026). 

Perubahan itu bukan sekadar membuka pintu, tetapi juga mengubah cara pandang.

Di tengah cerita-cerita lama tentang keris yang bisa bergerak sendiri atau gamelan yang berbunyi tanpa ditabuh, Hana justru menghadirkan penjelasan yang lebih logis.

Menurutnya, fenomena keris bergerak bukanlah hal mistis semata.

Material logam pada keris membuatnya sensitif terhadap medan magnet.

"Keris itu terbuat dari berbagai logam, sehingga bisa bereaksi terhadap medan magnet."

"Jadi, ada alasan ilmiahnya," jelasnya.

Hal serupa juga berlaku pada gamelan di dalam ruang pusaka, yang terkadang berbunyi pelan dengan sendirinya.

Ia menjelaskan, bunyi tersebut bisa dipicu frekuensi gelombang suara di sekitar yang saling terhubung, atau akibat pemuaian logam.

Tradisi Berpadu Modern

Meski mengedepankan pendekatan ilmiah, tradisi tetap dijaga.

Setiap malam Jumat, sesaji rutin diperbarui mulai dari dupa, kemenyan, bunga sedap malam, hingga doa-doa yang dipanjatkan.

"Doanya, untuk para pemimpin Banyumas agar bisa menjalankan kepemimpinan dengan bijak, juga untuk keselamatan masyarakat," kata Hana.

Pada malam Jumat Kliwon, ritual bahkan lebih lengkap.

Sesaji berupa bunga, dupa, minyak, kemenyan, jajanan pasar, pisang, hingga rokok klobot disiapkan.

Selain sebagai bentuk tradisi, ia menyebut, sesaji juga berfungsi menjaga kondisi ruangan.

"Sebagai pengharum ruangan dan mencegah serangga seperti ngengat, laba-laba, dan rayap," ujarnya.

Dari ratusan koleksi tersebut, ada empat pusaka yang dianggap paling sakral, yakni Tombak Kyai Genjring, Keris Kyai Nala Praja, Keris Kyai Sempana Bener, dan Keris Kyai Gajah Endro.

Keris Kyai Gajah Endro bahkan disebut sudah ada sebelum Banyumas berdiri.

Pusaka itu diyakini, diberikan kepada Raden Jaka Kaiman, sosok yang dikenal sebagai Bupati pertama Banyumas.

Selain itu, terdapat pula keris Bali dengan ukiran khas yang merupakan milik Raja Jembrana, yang makamnya berada di Dawuhan, Banyumas.

Setiap pusaka, kini dilengkapi barcode.

Pengunjung cukup memindai tanda tersebut untuk mengetahui sejarah dan keterangan masing-masing benda.

"Kalau sering dipegang, rawan kotor dan bisa cepat berkarat."

"Dengan barcode, informasi tetap bisa diakses tanpa harus menyentuh," jelas Hana.

Baca juga: Empat Pusaka akan Dikirab di Hari Jadi Kabupaten Banyumas, Camat Baturraden Pimpin Rombongan

Namun, di balik penataan rapi dan pendekatan ilmiah, cerita-cerita tak biasa tetap hidup.

Bumbu Cerita Mistis

Hana mengaku pernah mengalami kejadian saat merapikan koleksi.

Keris yang sudah diurutkan tiba-tiba berpindah tempat.

"Nomor 55 itu hilang dari urutan, lalu ditemukan di sisi lain lemari."

"Kami sempat saling pandang, lalu keluar ruangan," ungkapnya.

Cerita lain juga datang dari pengunjung.

Ada yang mengaku melihat sosok di dalam ruang pusaka, bahkan mengalami kesurupan.

Di dalam ruangan itu juga terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai Makam Mbah Melati, yang diyakini sebagai leluhur bupati Banyumas.

Tak hanya itu, di kawasan pendopo dan rumah dinas bupati juga terdapat sejumlah makam lain.

Di bekas gedung DPRD misalnya, hingga di kompleks BKAD yang menyimpan tujuh makam yang disebut-sebut sebagai prajurit pembawa saka guru saat perpindahan pusat pemerintahan dari Banyumas ke Purwokerto.

Meski demikian, belum ada penelitian ilmiah yang memastikan asal-usul makam-makam tersebut.

Bagi Hana, pengalaman dengan hal-hal tak kasat mata bukan hal baru.

Ia mengaku, sejak kecil kerap mengalami kesurupan dan melihat penampakan.

"Awalnya takut, tapi lama-lama belajar mengendalikan."

"Justru yang dilihat semakin beragam," katanya.

Kemampuan tersebut, menurutnya, juga dipengaruhi faktor keturunan dari sang kakek.

Aturan Berkunjung

Hana mengatakan, ruang pusaka Banyumas dibuka untuk umum di era pemerintahan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono ini.

Hana menjadi salah satu penggerak di balik keterbukaan itu.

Awalnya, ia hanya membantu membersihkan ruangan yang kondisinya kotor.

Namun, ia merasakan ada energi kuat di dalamnya.

"Ada aura leadership yang terasa," ujarnya.

Dari situlah, ia mulai terlibat lebih jauh, merawat pusaka secara sukarela.

Bahkan, penataan awal dilakukan menggunakan dana pribadi, sebelum akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Kini, ruang pusaka menjadi salah satu destinasi edukasi budaya.

Pengunjung yang ingin datang harus mengajukan surat kepada bupati dengan tembusan ke bagian umum.

Dalam satu waktu, jumlah pengunjung dibatasi antara 5 hingga 10 orang.

Selama ini, mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar, mulai dari TK hingga mahasiswa, serta masyarakat umum dan pecinta tosan aji.

Namun ada aturan khusus.

Perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan masuk.

Baca juga: Duduk Perkara Lebih Bayar Bonus di RSUD Banyumas: Terima Rp2 Juta Per Bulan, Harus Kembalikan Rp13 M

Pada momen tertentu, seperti hari jadi Banyumas, aktivitas di ruang pusaka meningkat.

Tamu-tamu dari luar daerah bahkan luar negeri, diajak melihat langsung koleksi tersebut.

Ke depan, Hana berharap, penataan ruang pusaka bisa lebih optimal.

Selain sebagai tempat penyimpanan, ruang ini juga menjadi wajah Banyumas bagi tamu penting yang datang.

Di tengah pertemuan antara sains dan tradisi, ruang pusaka Banyumas kini tidak lagi sekadar ruang sakral.

Ia menjelma menjadi ruang belajar - tentang sejarah, tentang kepercayaan, dan tentang bagaimana masa lalu tetap hidup dalam cara yang lebih rasional, tanpa kehilangan makna. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved