Sabtu, 25 April 2026

Banyumas

Lirik Plastik KW2 Jadi Cuan, Kerajaan Selangor Datangi Banyumas

Pemkab Banyumas dan Kerajaan Selangor jajaki kerja sama B2B pengolahan limbah plastik KW2 jadi palet lantai di Purwokerto, Rabu (15/4).

Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
JAJAKI KERJA SAMA - Pengarah Urusan KDEB Waste Management (KDEBWM) Kerajaan Selangor, Malaysia, Datuk Ramli Mohd Tahir (kiri) bersama Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono (kanan) di Rumah Dinas Bupati, Purwokerto, Rabu, (15/4/2026). Kerajaan Selangor, Malaysia, datang langsung mempelajari sistem yang dinilai berhasil menekan biaya sekaligus menghasilkan nilai ekonomi. 
Ringkasan Berita:
  • Pemkab Banyumas dan Kerajaan Selangor sepakat menjajaki investasi pengolahan limbah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Bupati Sadewo menerima kunjungan Datuk Ramli Mohd Tahir dari KDEBWM Selangor di Purwokerto, Rabu (15/4/2026).
  • Lewat konsep "zero waste to money", limbah plastik KW2 akan disulap menjadi palet lantai dan ember.
  • Dalam skema B2B, investor Malaysia akan menyediakan mesin dan membeli kembali hasil produksinya untuk diekspor.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas bersama delegasi resmi Kerajaan Selangor, Malaysia, mulai merajut komunikasi untuk menjajaki peluang investasi di sektor pengolahan sampah.

Limbah buangan ini ditargetkan mampu diubah wujudnya menjadi produk bernilai ekonomi yang punya peluang besar menembus kancah pasar internasional.

Kini, tumpukan sampah tak lagi sekadar dipandang sebagai sumber persoalan lingkungan semata, melainkan telah bermetamorfosis menjadi komoditas peluang ekonomi lintas negara yang menggiurkan.

Baca juga: Tol Pejagan-Cilacap Rp27 T Ditawarkan ke Rusia, Bupati Banyumas Jadi Sales

Jalin Kerja Sama

Penjajakan strategis tersebut mengemuka ke ruang publik sesaat setelah Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, secara resmi menerima lawatan Pengarah Urusan KDEB Waste Management (KDEBWM) Kerajaan Selangor, Datuk Ramli Mohd Tahir, beserta jajaran rombongannya.

Agenda tatap muka bilateral tersebut dilangsungkan dengan hangat di Rumah Dinas Bupati, Purwokerto, pada Rabu (15/4/2026).

Sadewo mengungkapkan, wacana kerja sama antara dua negara serumpun ini memang masih memijak tahap permulaan.

Kendati demikian, langkah progresif tersebut dinilai sudah menunjukkan arah yang jelas mengenai sistem pengelolaan sampah baru yang bukan saja berorientasi pada pelestarian alam, melainkan juga mendatangkan keuntungan finansial.

Menurut kacamata bupati, Pemerintah Kabupaten Banyumas saat ini tidak melulu mengekor pada konsep "zero waste to energy" yang nyatanya membutuhkan modal pembangunan sangat masif.

Pihaknya justru jauh lebih mengedepankan sebuah pendekatan realistis bernama "zero waste to money", yakni sistem pengelolaan cerdas di mana sampah dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi daerah.

"Kalau zero waste to energy itu butuh biaya besar. Kami lebih memilih zero waste to money, jadi sampah hilang sekaligus menghasilkan uang, minimal biaya pengelolaan bisa kembali dari hasil penjualan produk olahan," katanya kepada Tribunbanyumas.com.

Kirim Mesin Pengolah

Orang nomor satu di jajaran Pemkab Banyumas itu turut menjelaskan bahwa konsep pemilahan dan pengelolaan sampah di wilayah pemerintahannya sejatinya relatif sederhana.

Kendati demikian, karena dinilai amat efektif, sistem ini memendam potensi besar untuk segera direplikasi oleh wilayah lain maupun diadopsi oleh negara-negara mitra di mancanegara.

Membahas rincian skema kolaborasi yang tengah digodok secara intensif, pihak Kerajaan Selangor melalui mekanisme business to business (B2B) merencanakan untuk menanamkan modal investasinya di tanah Ngapak.

Wujud investasi riil tersebut berupa fasilitasi penyediaan perangkat mesin pengolahan sampah mutakhir di Banyumas.

Hasil olahan limbah dari mesin raksasa tersebut nantinya akan diarahkan sepenuhnya untuk memproduksi barang bernilai jual di pasaran, contohnya seperti palet lantai yang mengandalkan bahan baku limbah plastik.

Produk cetakan Banyumas ini selanjutnya siap diserap habis oleh tingginya permintaan pasar di Malaysia.

"Investasinya tidak terlalu besar, mereka menyiapkan mesin, lalu kita produksi palet dari limbah sampah. Hasilnya nanti akan diambil oleh pihak Malaysia," katanya.

Olah Plastik Campuran

Bukan sekadar berfokus mencetak palet, Kabupaten Banyumas juga turut membuka pintu peluang seluas-luasnya untuk penciptaan berbagai produk turunan lainnya yang dicetak dari biji plastik hasil daur ulang sampah.

Beberapa barang di antaranya seperti pembuatan ember serta aneka rupa perabotan kebutuhan rumah tangga tangga.

Sadewo secara spesifik menyebutkan, serpihan biji plastik yang sukses diproduksi dari sistem ini tergolong ke dalam jenis plastik campuran atau kerap dilabeli kualitas kedua (KW2).

Karakteristik plastiknya sangat jauh berbeda dengan plastik bening kualitas super yang berasal dari botol air mineral, sehingga wujud material daur ulang ini memang jauh lebih cocok diaplikasikan pada pabrikasi produk-produk non-pangan.

Sekalipun kualitasnya menduduki kelas KW2, Bupati Sadewo tetap optimistis bahwa nilai jual ekonominya sangatlah menjanjikan.

Perputaran uang dari bisnis ini bahkan diproyeksikan berpotensi jauh lebih tinggi dibandingkan sekadar meraup untung dari penjualan bahan bakar alternatif refuse-derived fuel (RDF).

"Kalau dari hitungan kami, ini bisa menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada hanya menjual RDF," katanya.

Bahas Kota Kembar

Melebarkan sayap di luar patokan skema bisnis B2B, kesempatan kolaborasi antarpemerintah yang lebih luas juga terbuka di depan mata melalui diplomasi jalur government to government (G2G).

Momentum strategis ini mencakup kemungkinan lahirnya sebuah ikatan kerja sama kota kembar atau sister city yang menyatukan Kabupaten Banyumas dengan salah satu kota di kawasan Selangor.

Lebih lanjut Sadewo membeberkan, arus komunikasi positif antara kedua belah institusi negara ini sejatinya sudah berlangsung dengan cukup intens dalam kurun waktu beberapa waktu terakhir.

Sebagai bukti kedekatan, Kabupaten Banyumas bahkan sempat mendapat sebuah undangan istimewa untuk terbang memaparkan keberhasilan penerapan sistem pengelolaan sampah percontohannya di hadapan audiens di Kuala Lumpur.

"Ini bukan pertemuan pertama. Sudah beberapa kali komunikasi, dan kami juga diundang ke Kuala Lumpur menjelaskan pengelolaan sampah di Banyumas," katanya.

Susun Nota Kesepahaman

Dirinya memupuk asa tinggi agar proses penjajakan tahap awal ini bisa secepatnya dinaikkan statusnya menuju tahapan yang bersifat jauh lebih konkret.

Lewat realisasi kesepakatan tersebut, sistem pengelolaan sampah dapat diperkuat secara mengakar yang pada gilirannya sukses mendongkrak laju perputaran ekonomi sektor kebersihan di wilayah Banyumas.

Di kubu seberang, perwakilan negara jiran Datuk Ramli Mohd Tahir secara terbuka menyampaikan kepada hadirin bahwa pihaknya bersedia memberikan ruang kolaborasi yang lebih erat untuk saling menguntungkan bersama Pemkab Banyumas.

Menurut penuturan sang Pengarah Urusan KDEBWM, jalannya dinamika pembahasan kerja sama kemitraan saat ini masih terus berlanjut.

Datuk Ramli menaruh harapan besar supaya ikatan emosional dua wilayah ini dapat segera diformalkan pijakan hukumnya lewat penandatanganan lembar nota kesepahaman (MoU) selaras dengan mekanisme prosedur yang wajib disepakati oleh aturan kedua negara.

"Mungkin kita akan memiliki kerja sama yang baik di kemudian hari antara kedua negara dan Kabupaten Banyumas. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Sadewo atas undangannya. Insya Allah, kita akan membahas hal-hal yang tepat, MoU insyaallah," kata Ramli menandaskan. (jti)

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved