Sabtu, 30 Mei 2026

Berita Banjarnegara

Pengakuan Kades Hoho Dikeroyok Massa, Kaca Mata Pecah hingga Baju Robek

Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang akrab disapa Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Banyumas
AKSI UNJUK RASA - Screenshit video Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang akrab disapa Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh puluhan orang usai aksi unjuk rasa, Kamis (12/3/2026). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA- Aksi demonstrasi yang berlangsung di Kantor Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Selasa (11/3/2026), berujung ricuh.

Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang akrab disapa Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh puluhan orang usai aksi unjuk rasa tersebut.

Peristiwa itu terjadi saat Hoho hendak meninggalkan kantor balai desa setelah aksi demonstrasi yang diikuti  para anggota sebuah LSM.

Situasi berubah memanas ketika massa mulai mendesak agar proses penjaringan perangkat desa dibatalkan.

Dalam keterangannya melalui media sosial pribadinya @hoho_alkaff menyebut dirinya tiba-tiba diserang oleh sejumlah orang dari kerumunan massa saat hendak keluar dari lokasi.

"Saya hendak keluar dari balai desa, tapi langsung diserang dan dikeroyok. 


Kacamata saya pecah dan baju saya robek," ungkap Hoho dalam unggahan yang kemudian viral di media sosial.

Ia menjelaskan, saat baru keluar dari pintu aula balai desa dan sebelum sempat dikawal aparat, sejumlah orang langsung memukulnya dari berbagai arah.

"Waktu saya baru keluar dari pintu aula sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, belakang, dan depan.

Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan," ujarnya.

Akibat kejadian tersebut, kacamata yang dikenakan Hoho pecah, pakaian yang dipakainya robek, bahkan atribut yang dikenakannya sebagai kepala desa ikut terlepas.

"Logo atribut saya juga pada rogol.

Papan nama jatuh karena ketarik-ketarik," katanya.

Selain itu, Hoho juga menyoroti sikap aparat keamanan yang dinilai tidak sigap dalam mengendalikan situasi.

Baca juga: Taktik Lemos Berhasil, Persijap Jepara Curi 1 Poin di Kandang PSIM

Ia menilai aparat kepolisian yang berada di lokasi tidak memberikan perlindungan maksimal saat kericuhan terjadi.

Ia meminta keadilan ke Propam Mabes Polri.

"Saya minta keadilan, saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan, pekerjaan saya sebaik-baiknya, begitupula dengan panitia. 


Tetapi saya dipaksa mengulang, karena anggota dari LSM itu nilainya di bawah, tapi maunya diulang, kita kiblatnya regulasi tapi mereka tetap tidak mau tahu," katanya.

Hoho menilai video yang beredar di media sosial tidak menggambarkan secara utuh peristiwa yang terjadi.

Menurutnya, dalam video tersebut dirinya sudah berada dalam pengamanan aparat di belakang mobil sehingga momen pengeroyokan tidak terlihat.

"Di video itu memang suruh keluar semua, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dan ada yang bilang saya tidak dikeroyok. Memang di video itu saya sudah diamankan karena sudah di belakang mobil," jelasnya.

Hoho mengatakan aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh kekecewaan salah satu anggota LSM yang tidak lolos dalam proses penjaringan perangkat desa.

Massa menuntut agar tahapan seleksi yang telah sampai pada tahap pengumuman hasil dibatalkan dan diulang kembali.

Namun permintaan tersebut ditolak pemerintah desa karena proses penjaringan perangkat desa disebut telah dilakukan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.

Hoho menegaskan tidak akan membatalkan hasil seleksi perangkat desa hanya karena adanya tekanan dari pihak tertentu.

Proses penjaringan perangkat desa sudah sesuai mekanisme.

Tidak mungkin dibatalkan hanya karena tekanan.

Ia pun meminta perlindungan hukum atas insiden yang dialaminya dalam peristiwa tersebut kepada Camat, Bupati hingga Propam Mabes Polri. (jti)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved