TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Air mata Naila belum juga kering empat hari setelah suaminya, Abdul Khamid, meninggal di lautan.
Abdul Khamid adalah satu dari tiga nelayan yang menjadi korban tewas saat perahu mereka karam diterjang ombak di perairan Kendal, Selasa (19/8/2025).
Tangis Naila kembali pecah saat menerima kunjungan dari Pemkab Kendal yang memberikan santunan, Sabtu (23/8/2025).
Baca juga: Hilang 2 Hari di Perairan Kendal, Tiga ABK Ditemukan dalam Kondisi Meninggal
Kepergian suaminya meninggalkan luka mendalam dan dua anak yang masih kecil, berusia 5 dan 8 tahun.
Baru Dua Hari Melaut
Naila menceritakan, suaminya sebenarnya adalah seorang buruh bangunan, bukan nelayan tulen.
Nahas, saat sedang sepi pekerjaan, Abdul Khamid mencoba mencari nafkah dengan ikut melaut.
"Kemarin baru saja dua hari ikut melaut, kalau biasanya jadi buruh bangunan," ujar Naila lirih.
Ia mengaku tidak punya firasat apa pun saat suaminya berpamitan untuk bekerja. "Pamitan juga pamitan biasa, cuma salaman saja," tuturnya.
Dipeluk Erat Bupati
Duka mendalam juga dirasakan Saniati. Ia kehilangan suaminya, Suudi, dalam tragedi yang sama.
Suudi meninggalkan enam orang anak.
Tangis Saniati tak terbendung saat ia memeluk erat Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari.
Wajahnya yang penuh guratan kesedihan sudah cukup menjelaskan perasaannya tanpa perlu banyak bicara.
Siapkan Asuransi Nelayan
Bupati yang akrab disapa Tika itu turut berduka cita atas musibah tersebut.
Ia mengungkapkan, dari 10 awak kapal, hanya satu yang terdaftar asuransi.
Tragedi ini menjadi pelajaran penting bagi pemkab.
Pihaknya kini tengah menyiapkan skema asuransi bagi pekerja rentan, termasuk nelayan, yang akan dibiayai melalui APBD.
"Besok Senin akan kami bahas untuk yang asuransi BPJS pekerja rentan ini. Nanti akan kami data dan kami bayarkan lewat APBD," tandas Tika. (ags)
Baca tanpa iklan