Berita Banjarnegara

Derita Teman Tuli di Tengah Pandemi, Kesulitan Berkomunikasi Hingga Bikin Masker Transparan

Dwi Rahayu, Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Kabupaten Sleman membuat masker transparan bagi teman tuli.

"Udara yang masuk dan keluar akan difilter," katanya.

Dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip Budi Laksono memerkenalkan pelindung wajah yang ramah bagi teman tuli. (TRIBUNBANYUMAS/Istimewa)

Ia menjamin teknologi tepat guna itu nyaman dan tidak mengembun saat dipakai. Kabar baiknya, masker itu bisa dibuat mandiri menggunakan bahan yang mudah ditemukan.

Dia menyebut, bahan tersebut berupa pelindung mika seharga Rp 5 ribu dan dua filter kipas yang masing-masing seharga sekitar Rp 25 ribu.

"Bagaimana cara membuatnya, nanti bisa menghubungi saya. Bisa juga main ke basecamp kami," katanya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Harso Susilo mengatakan, pemerintah telah menaruh perhatian terhadap warga terampak pandemi Covid 19, termasuk di dalamnya penyandang disabilitas.

Bantuan yang diberikan untuk warga terdampak Covid 19 berbagai bentuk, baik uang tunai, paket sembako, hingga Alat Pelindung Diri (APD) semisal masker dan face shield.

Bahkan, ada pemberdayaan bagi kelompok rentan, termasuk di dalamnya kaum difabel untuk memproduksi APD dengan ongkos jasa yang layak.

Bantuan langsung yang dibagikan ke masyarakat, termasuk difabel sebagai Jaring Pengaman Sosial (JPS) juga berupa paket sembako senilai Rp 200 ribu.

Guru di Banjarnegara Memprotes Wacana Penghapusan Pelajaran Sejarah, Ini Alasannya

Viral, Video Tiga Remaja Mesum di Kandang Ayam di Wonopringgo Pekalongan. Begini Penjelasan Bu Camat

Pulau Jawa dan Bali Bakal Jadi Prioritas Vaksinasi Covid-19 Tahap Awal

Tetapi ia mengakui, bantuan yang ada selama ini diperuntukkan bagi kalangan disabilitas secara umum.

Belum ada bantuan spesifik bagi teman tuli yang punya kesulitan khusus berkomunikasi pakai masker.

"Bantuan jaring pengaman sosial (JPS), berupa paket sembako senilai Rp 200 ribu. Termasuk di dalamnya difabel dapat," katanya.

Ia pun memahami kesulitas teman tuli dalam berkomunikasi di masa pandemi. Karena itu, ia menyarankan teman tuli untuk memaksimalkan bahasa isyarat atau menggunakan media tulisan saat berkomunikasi.

Ini adalah siasat agar mereka terhindar dari risiko penularan virus Covid 19, sekaligus bisa tetap berinteraksi. (*)

Berita Populer