Berita Banjarnegara

Derita Teman Tuli di Tengah Pandemi, Kesulitan Berkomunikasi Hingga Bikin Masker Transparan

Dwi Rahayu, Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Kabupaten Sleman membuat masker transparan bagi teman tuli.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Dwi Rahayu, warga Gemawang RT 07 RW 44 Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, akhir-akhir ini rajin mengunjungi rumah sakit. Penyakit saraf kejepit yang dideritanya mengharuskan dia rutin terapi ke rumah sakit.

Berobat di masa pandemi jadi tantangan tersendiri, terutama bagi penyandang tuli sepertinya.

Orang-orang di rumah sakit memakai masker menutup mulut, terutama petugas medis, demi mencegah penularan Covid-19.

Kondisi ini pun membuat Dwi kesulitan lantaran dia mengandalkan gerak bibir lawan bicara untuk berkomunikasi.

"Di rumah sakit itu seolah-olah menuntut saya bisa berkomunikasi dengan cara apapun," kata Dwi Rahayu yang sekaligus menjabat Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Kabupaten Sleman, Minggu (13/9/2020).

Kesulitan Berkomunikasi Pakai Masker, Teman Tuli Minta Pelayan Publik Pakai Pelindung Wajah

Kisah Viral Nasabah Tuna Rungu di Semarang: Hormat Sedalam-dalamnya Buat Pak Kurniawan

Nasib sama dialami Rita Budi Lestari, teman tuli asal Kota Semarang. Ia terpaksa menyampaikan pesan lewat media tulisan saat beraktivitas di luar.

Ini dilakukannya untuk mengurangi kontak langsung dengan orang lain.

Dengan tak bercakap, ia bisa mengurangi risiko penularan virus Covid 19. Meski pada saat tertentu, semisal di pusat perbelanjaan, Budi tak segan meminta pelayan toko untuk mencopot masker agar bisa berkomunikasi dengannya.

Ada yang dengan senang hati merespon permintaannya. Tetapi, ada pula yang keberatan untuk mencopot masker karena alasan keamanan.

"Mau buka masker tapi sebentar-sebentar ditutup," katanya.

Halaman
1234

Berita Populer