Kamis, 30 April 2026

Berita Jateng

Seberapa Ekstrem Cuaca Puncak Gunung Saat Fenomena Bediding Melanda? BMKG Beri Peringatan Pendaki

BMKG mengimbau para pendaki gunung di wilayah Jawa Tengah untuk mewaspadai potensi angin kencang, terutama pada siang hingga sore hari.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: khoirul muzaki
Kompas.com
Panorama di salah satu puncak Gunung Prau(Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG- BMKG mengingatkan adanya fenomena mbediding atau hawa dingin menusuk tulang di wilayah Jawa Tengah pada musim kemarau ini. 

Forecaster Stasiun BMKG Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, mengatakan fenomena mbediding terjadi karena gabungan antara masuknya musim kemarau, aktifnya angin timuran dari Australia, serta langit malam yang cerah tanpa awan.

“Udara dingin terasa karena panas dari permukaan bumi cepat dilepas ke atmosfer. Hal ini membuat suhu turun drastis terutama malam sampai pagi,” jelas Ferry, Kamis (10/7/2025).

Baca juga: Ironis 30 Sekolah di Kabupaten Purbalingga Masih Kekurangan Murid Padahal SMPB Telah Usai

Lebih khusus, BMKG mengimbau para pendaki gunung di wilayah Jawa Tengah untuk mewaspadai potensi angin kencang, terutama pada siang hingga sore hari.

“Meski secara umum kondisi cuaca aman dan cerah, potensi angin kencang tetap ada di kawasan pegunungan. Kecepatan angin bisa mencapai 15–25 km/jam,” kata Ferry.

Wilayah yang perlu diwaspadai antara lain kawasan Gunung Slamet, jajaran Pegunungan Dieng, Merapi–Merbabu, serta wilayah Selo di Boyolali.

Suhu di daerah pegunungan pada siang hari diperkirakan antara 20–24 derajat Celsius, sementara malam hari bisa turun menjadi 18–20 derajat Celsius.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau masih akan berlangsung hingga September mendatang. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved