Berita Nasional

Wacana Tradisi Mudik Dipindah dari Idul Fitri ke Idul Adha, Ini Alasannya

Mudik telah menjadi tradisi yang melekat bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, dalam merayakan hari raya bersama keluarga.

Editor: khoirul muzaki
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
KEPADATAN ARUS MUDIK - Ilustrasi puncak arus mudik. Kementerian Perhubungan telah memprediksi bahwa puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 Lebaran atau pada 28 Maret 2025. Editor: Seno Tri Sulistiyono 

TRIBUNBANYUMAS.COM, Mudik telah menjadi tradisi yang melekat bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, dalam merayakan hari raya bersama keluarga.

Namun, sudah saatnya kita mempertimbangkan perubahan waktu mudik nasional dari Idul Fitri ke Idul Adha, dengan berbagai pertimbangan yang lebih menguntungkan baik secara spiritual, fisik, maupun logistik.

Ini diungkapkan alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed angkatan 1985 H., Furqon Karim, SE., MM. 

Adapun pertimbangannya sebagai berikut  

*1. Lebih Fokus Menjalani Akhir Ramadhan*

Idul Fitri dirayakan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa dan berbagai amalan di bulan suci Ramadhan. Namun, tradisi mudik yang dilakukan menjelang Idul Fitri sering kali mengurangi fokus umat Islam dalam menjalani ibadah akhir Ramadhan, seperti i'tikaf di masjid, qiyamul lail, dan memperbanyak amal ibadah. Dengan mengalihkan mudik ke Idul Adha, umat Islam bisa lebih khusyuk dalam menyempurnakan ibadah di akhir Ramadhan tanpa terganggu oleh persiapan perjalanan pulang kampung

Baca juga: Momen Kapolri Jenderal Listyo Sigit Tinjau Stasiun Tawang Saat Puncak Arus Balik

*2. Mudik dalam Kondisi Fisik yang Lebih Prima*

Furqon (HR Corporate di SR Land Group) menjelaskan bahwa mudik di tengah bulan Ramadhan bisa menjadi tantangan tersendiri karena pemudik harus menjalani perjalanan jauh dalam kondisi berpuasa, yang berisiko menyebabkan kelelahan, dehidrasi, dan bahkan gangguan kesehatan.

Jika mudik dipindahkan ke Idul Adha, masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan kondisi fisik yang lebih prima, tanpa perlu khawatir tentang kewajiban berpuasa. Ini tentu akan meningkatkan kenyamanan dan keselamatan selama perjalanan.

*3. Kepastian Hari Raya yang Lebih Awal*

Penentuan tanggal Idul Fitri menurut Furqon sering kali baru bisa dipastikan melalui sidang isbat pemerintah yang dilakukan di penghujung Ramadhan. Hal ini sering kali menyebabkan ketidakpastian dalam perencanaan mudik.

Sebaliknya, Idul Adha jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, yang sudah bisa diketahui minimal 10 hari sebelumnya. Dengan kepastian ini, masyarakat dapat merencanakan perjalanan jauh lebih matang, mengurangi kepadatan arus mudik dalam waktu yang sempit, serta mengoptimalkan efisiensi transportasi.

*4. Ketersediaan Daging yang Berlimpah untuk Keluarga*

Salah satu keistimewaan Idul Adha adalah ibadah qurban, di mana umat Islam menyembelih hewan qurban dan membagikan dagingnya kepada masyarakat. Dengan mudik dilakukan pada Idul Adha, masyarakat yang kembali ke kampung halaman dapat menikmati momen kebersamaan dengan keluarga sambil menikmati daging qurban yang berlimpah. Ini memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang besar, terutama bagi daerah yang membutuhkan, kata Furqon.

Dengan berbagai alasan tersebut, perubahan waktu mudik nasional dari Idul Fitri ke Idul Adha bukan hanya sekadar gagasan, tetapi juga sebuah solusi yang lebih selaras dengan nilai-nilai ibadah, kesehatan, ketertiban perjalanan, dan kesejahteraan masyarakat.

"Sudah saatnya kita mempertimbangkan kebiasaan baru demi manfaat yang lebih besar bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Furqon.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved