Jumat, 8 Mei 2026

Berita Jepara

Mengenal Tradisi Perang Obor di Tegalsambi Jepara, Digelar Setiap Bulan Apit untuk Tolak Bala

Tradisi perang obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Senin (5/6/2023) malam, menyedot perhatian ribuan warga.

Tayang:
TRIBUNBANYUMAS/YUNAN SETIAWAN
Keseruan perang obor di Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Senin (5/6/2023) malam. Tradisi ini digelar setiap Senin Pahing atau Malam Selasa Pon, pada bulan Dzulhijah atau dalam kalender Jawa disebut bulan Apit, sebagai kegiatan tolak bala serta ungkapan syukur atas anugerah Tuhan. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Kobaran api terlihat di perempatan Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Senin (5/6/2023) malam.

Api itu menjadi sumber untuk menyalakan obor dari pelepah daun kelapa.

Sejumlah orang bergantian menyalakan obor-obor tersebut.

Mereka yang memegang obor adalah warga setempat dan orang-orang terpilih.

Mereka akan mengikuti tradisi ekstrem, perang obor.

Baca juga: Benarkah Tradisi Menggebrak Bayi Baru Lahir agar Tak Mudah Kaget? Ini Kata Dokter Spesialis Anak

Tradisi ini dilaksanakan secara turun-temurun, sejak ratusan tahun yang lalu.

Tradisi ini dilaksanakan pada Senin Pahing atau Malam Selasa Pon, pada Dzulhijah atau dalam kalender Jawa disebut bulan Apit.

Perang obor dilaksanakan sebagai tradisi tolak bala serta ungkapan syukur atas anugerah Tuhan yang diterima warga selama ini.

Dalam permainan ini, pemegang obor saling serang.

Benturan obor itu menimbulkan percikan api yang bertebaran hingga membuat para pemain seperti berada di lautan api.

Tradisi ini juga selalu menyedot ribuan warga yang ingin menyaksikan.

Baca juga: Tradisi Punggahan, Warga Adat Bonokeling Jalan Kaki dari Adiraja Cilacap ke Banyumas untuk Nyadran

Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso menyampaikan, tahun ini, disiapkan 400 obor untuk memeriahkan tradisi perang obor.

Tak heran, kegiatan berlangsung cukup lama, hampir satu jam.

"Sebelum perang obor, ada rangkaian acara panjang, yakni ziarah ke makam leluhur yang ada di Tegalsambi," kata Agus Santosa sebelum acara.

Dia mengungkapkan, tradisi ini juga untuk mengingatkan kepada anak muda terhadap para leluhur.

Di samping itu, juga mengedukasi anak muda di Tegalsambi tetang sejarah desa mereka. (*)

Baca juga: Warga Sekitar Asrama Haji Donohudan Panen Berkah: Jadi Tukang Ojek Dadakan, Sehari Cuan Rp600 Ribu

Baca juga: FIFA Matchday Indonesia vs Palestina: 10 Persen Penjualan Tiket Disumbangkan ke Rakyat Palestina

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved