Berita Purbalingga

Kematian Ibu dan Bayi di Purbalingga Capai 118 Kasus, Terbanyak Pada Ibu Terjadi akibat Eklamsia

Pemkab Purbalingga mencatat, kasus kematian ibu dan bayi, Januari-Oktober 2022 mencapai 118 kasus.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
ISTIMEWA/Pemkab Purbalingga
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Purbalingga Herni Sulasti meminta stakeholder segera menyusun rencana dan aksi menekan angka kematian ibu dan bayi, dalam Coffee Morning di Pendopo Dipokusumo, Kamis (1/12/2022). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga mencatat, kasus kematian ibu dan bayi, Januari-Oktober 2022 mencapai 118 kasus.

Kasus kematian ibu terbanyak dipicu eklamsia.

Hal ini terungkap saat Pemkab Purbalingga mengumpulkan sejumlah stakeholder baik dari Dinas Kesehatan, puskesmas, RSUD, RS swasta, dokter anak, dan dokter obgyn dalam Coffee Morning di Pendopo Dipokusumo, Kamis (1/12/2022).

Pertemuan ini satu di antaranya mengevaluasi kasus angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Purbalingga.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Purbalingga Herni Sulasti berharap, kasus kematian ibu dan bayi di Purbalingga bisa dikontrol.

"Sampai Oktober, angka kematian ibu sudah 10 (kasus), maksimal 12. Tapi, masih ada 1 bulan lagi, semoga berhenti di angka 10," harap Herni dalam rilis yang diterima.

Baca juga: Cegah Kematian Ibu Hamil Akibat Perdarahan, Bumil Karanglesem Purbalingga Wajib Siapkan 4 Pendonor

Baca juga: Warga Karangmoncol Purbalingga Ditangkap Polisi, Edarkan Obat Keras Tanpa Resep. Untung Rp50 Ribu

Sedangkan angka kematian bayi, sampai dengan Oktober, mencapai 108 kasus.

Sebanyak 69 kasus diantaranya adalah bayi neonatal.

"Ambang batas untuk kita, tidak melebihi 137," imbuhnya.

Atas catatan jumlah kasus AKI/AKB tersebut, Herni meminta para stakeholder segera menyusun rencana dan menindaklanjuti dalam aksi menurunkan AKI/AKB.

Rencana ini nantinya dijadikan panduan bagi para kader kesehatan, bidan desa, puskesmas, rumah sakit, termasuk pemerintah desa.

Baca juga: Sekda Purbalingga Minta Anggota Korpri Antisipasi Dini terhadap Hoax, Fitnah, dan Politik Identitas

Baca juga: Temuan Mayat di Purbalingga, Enti Kaget Mendapati Tubuh Neneknya Mengambang di Saluran Air

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga dr Jusi Febrianto mengungkapkan, 10 kasus kematian ibu di tahun 2022 ini didominasi akibat eklamsi (4 kasus), kemudian pendarahan (3 kasus), lalu penyakit lain.

"Waktu meninggal lebih banyak terjadi di rumah sakit, pada rentang waktu lebih dari 48 jam (7 kasus)."

"Kalau dilihat permasalahan sudah tidak di hulu lagi tapi di hilir," katanya.

Ia memastikan, 9 dari 10 kematian ibu yang ada, sebenarnya masih bisa dicegah.

Di antaranya, menghindari keterlambatan, khususnya keterlambatan dalam hal merujuk, penanganan, dan pengambilan keputusan.

Selain itu, pasien juga menghindari hamil pada kondisi '4 Terlalu', yaitu terlalu tua, terlalu banyak, terlalu muda, dan terlalu dekat. (*)

Baca juga: Densus 88 Tangkap 2 Warga Grogol Sukoharjo, Satu Orang Diamankan di Masjid

Baca juga: Perahu Terbalik akibat Baling-baling Tersangkut, Nelayan Tewas Tenggelam di Rawa Pening Semarang

Baca juga: Tak Perlu Urus Mandiri, PNS Jepara Langsung Dapat KTP dan KK Baru saat Pensiun Tiba

Baca juga: Viral Video Istri Anggota TNI di Semarang Curhat Rumah Tangga Penuh KDRT, Ini Tanggapan Kodam

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved