Berita Semarang

Tak Ada Lagi Tempat bagi Pengemis di Semarang, Stiker Larangan Dipasang di Gapura-gapura Gang

Pintu masuk permukiman di Kota Semarang kini dipasangi spanduk dan stiker larangan bagi pengamen dan pengemis.

Penulis: budi susanto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/BUDI SUSANTO
Stiker larangan masuk bagi pengamen dan pengemis dipasang di gapura Jalan Pusponjolo Timur, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jumat (11/11/2022). Pemasangan stiker ini merupakan tindak lanjut dari penerapan secara tegas Perda Nomor 4 Tahun 2014 yang melarang warga memberi uang atau barang ke anak jalanan dan PGOT di jalan umum atau traffic light, termasuk di permukiman. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pintu masuk permukiman di Kota Semarang kini dipasangi spanduk dan stiker larangan bagi pengamen dan pengemis.

Peringatan tersebut juga memuat tulisan gerakan Kota Semarang bebas atau steril dari anak jalanan, gelandang, pengemis, serta orang terlantar (PGOT).

Spanduk dan stiker itu, di antaranya terpasang di wilayah Pusponjolo Timur, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Sejumlah stiker ditempel di gapura-gapura masuk gang.

Beberapa warga mengatakan, stiker larangan itu memang dipasang secara serentak di wilayah Pusponjolo.

"Banyak pengamen dan pengemis di wilayah kami, jadi saat ada instruksi memasang larangan, kami pasang secara senang hati," terang Ahmad, warga Pusponjolo, Jumat (11/11/2022).

Baca juga: Awas! Beri Uang ke Pengemis di Kota Semarang Bisa Kena Denda Rp 1 Juta. Berlaku Mulai 1 Oktober 2022

Baca juga: PSIS Semarang Beberkan Alasan Rekrut Mantan Pemain Jadi Staf Pelatih, Ada Lima Orang

Dijelaskannya, lantaran Pusponjolo dekat dengan jalan raya dan tak jauh dari pusat kota serta obyek wisata, wilayah tersebut sering disasar pangamen dan pengemis.

Tak jarang, satu rumah bisa didatangi pengemis atau pengamen, empat kali dalam satu hari.

"Orangnya ya ganti-ganti. Sekarang, ada larangan ini, kalau ada pengemis atau pengemen, ya saya ingatkan agar tidak masuk permukiman," terangnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengimbau warga tak memberi uang atau barang ke pengemis maupun pengamen yang masuk ke permukiman.

Larangan tersebut juga tertuang dalam Perda Nomor 4 Tahun 2014.

Baca juga: Air Supply Bakal Konser di Marina Convention Center Kota Semarang: Jadwal dan Pemesanan Tiket

Baca juga: Subvarian Omicron XBB Ditemukan di Semarang, Jepara, dan Grobogan, Ini Respons Gubernur Ganjar

Di mana, pada Pasal 24 disebutkan: setiap orang dilarang memberikan uang atau barang ke anak jalanan dan PGOT, di jalan umum atau traffic light.

"Misalnya, ada yang minta-minta di permukiman, warga bisa melapor, tim akan segera melakukan penindakan," katanya.

Fajar menambahkan, koordinasi ke kecamatan, kelurahan, hingga tingkat RT terkait larangan tersebut sudah dilakukan.

Dalam koordinasi, Fajar mengatakan, semua jajaran diberikan mandat untuk menegakkan Perda.

"Kalau ada yang nekat, tetap ngamen dan minta-minta di permukiman, akan kena sanksi tegas," tambahnya. (*)

Baca juga: Waktu Tunggu Capai 30 Tahun, 321 Calon Jemaah Haji Jepara Mundur. Petugas PUH: Lebih Tergoda Umrah

Baca juga: Amankah Mencampur Puyer dengan Madu agar Anak Doyan Obat Pahit? Begini Penjelasan Ahli

Baca juga: Minta Maaf, Guru di Sragen Tak Bermaksud Rundung Siswi Tidak Berjilbab: Spontanitas, Itu Kecelakaan

Baca juga: Bjorka Berulah Lagi! Klaim Bobol dan Jual 44 Juta Data Pengguna MyPertamina Seharga Rp392 Juta

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved