Internasional

17 Orang Tewas Akibat Aksi Protes Terhadap Kematian Mahsa Amini di Iran

Aksi protes di Iran terus dilakukan dan bertambah akibat kasus kematian seorang wanita muda Iran, Mahsa Amini.

Penulis: Andra Prabasari | Editor: Pujiono JS
TRIBUNNEWS
Aksi protes di Iran terus dilakukan dan bertambah akibat kasus kematian seorang wanita muda Iran, Mahsa Amini. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN- Aksi protes di Iran terus dilakukan dan bertambah akibat kasus kematian seorang wanita muda Iran, Mahsa Amini.

Aksi demostrasi yang dilakukan selama 7 hari hingga Jumat (23/9/2022) mengakibatkan 17 orang tewas.

"Tujuh belas orang, termasuk demonstran dan polisi, telah kehilangan nyawa mereka dalam peristiwa beberapa hari terakhir," televisi pemerintah melaporkan tanpa memberikan rincian, seperti dikutip dari Reuters.

Korban tewas sebelumnya ada 7 pengunjuk rasa dan 4 anggota pasukan keamanan.

Terdapat tiga militer yang dikerahkan untuk mengamankan para demonstran, dengan cara ditembak atau ditikam yang terjadi di Kota Tabriz, di provinsi Azerbaijan Timur, Qazvin, dan Mashhad di provinsi Razavi Khorasan, dikutip dari media asing euronews.

Namun para pejabat membantah pasukan keamanan terlibat dalam kematian para pengunjung rasa.

Sementara Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan bahwa “tindakan kekacauan” tidak dapat diterima.

Pesan itu adalah sebuah peringatan kepada para pengunjuk rasa yang turun ke jalan-jalan di seluruh kota untuk melampiaskan kemarahan mereka atas kematian Mahsa Amini dalam tahanan.

Berbicara pada konferensi pers di sela-sela Sidang Umum PBB, Raisi menambahkan bahwa dia telah memerintahkan penyelidikan atas kasus Mahsa Amini yang meninggal pekan lalu setelah ditangkap karena mengenakan "pakaian tidak pantas".

 "Ada kebebasan berekspresi di Iran, tetapi tindakan kekacauan ini tidak dapat diterima," kata Raisi, yang menghadapi protes terbesar itu.

Perempuan di Iran telah memainkan peran penting dalam aksi demonstrasi kali ini. Mereka melambaikan dan membakar cadar mereka. Beberapa wanita bahkan memotong rambut mereka di depan umum sebagai tantangan langsung kepada para pemimpin ulama.

Para pengunjuk rasa di Teheran dan kota-kota lain membakar kantor polisi dan kendaraan.

Dalam sebuah pernyataan, Pengawal Revolusi Iran menyatakan simpati kepada keluarga dan kerabat Amini.

"Kami telah meminta pengadilan untuk mengidentifikasi mereka yang menyebarkan berita palsu dan desas-desus di media sosial serta di jalan dan yang membahayakan keselamatan psikologis masyarakat dan untuk menangani mereka dengan tegas," kata Garda Revolusi Iran, yang telah menindak protes. 

Kementerian Intelijen Iran juga mencoba menghentikan aksi protes tersebut, dengan mengatakan bahwa menghadiri demonstrasi adalah tindakan ilegal, dan siapa pun yang terlibat akan dihukum, situs berita Iran melaporkan.

Aksi protes pro-pemerintah direncanakan pada hari Jumat dan beberapa pengunjuk rasa telah turun ke jalan, kata media Iran.

Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei telah memerintahkan tindakan cepat dalam kasus perusuh untuk "menjaga keamanan dan kedamaian warga", dikutip dari media Iran Tasnim.

Sementara Amerika Serikat pada hari Kamis akan menjatuhkan sanksi pada polisi Iran, yang menuduh mereka melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap wanita Iran dan melanggar hak-hak pengunjuk rasa Iran, kata Departemen Keuangan AS.

ADR

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved