Pendidikan

Hilangnya Madrasah dari RUU Sisdiknas Jadi Polemik, Begini Tanggapan Wakil Ketua Komisi X DPR RI

Mereka khawatir hal itu akan menghilangkan kesetaraan antara siswa madrasah dan siswa sekolah umum.

tribun/fajar
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih 

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Hilangnya kata 'Madrasah' dalam Draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), menjadi kekhawatiran bagi para penyelanggara pendidikan madrasah.

Mereka khawatir hal itu akan menghilangkan kesetaraan antara siswa madrasah dan siswa sekolah umum.

Karena jika disahkan, frasa Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) akan hilang dari UU Sisdiknas.

Baca juga: Keluarga Gilang Kecewa atas Vonis 2 Tahun bagi Tersangka Diklatsar Maut Menwa UNS Solo, JPU Banding

Menanggapi itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih mengatakan, pihaknya sudah menampung semua aspirasi terkait polemik RUU Sisdiknas.

Terutama bagi penyelanggara pendidikan madrasah yang merasa dirugikan.

Mereka khawatir jika kata madrasah hilang, maka tidak ada kesetaraan lagi dengan pendidikan umum meliputi SD, SMP, dan SMA/ SMK.

"Khawatirnya tidak ada kesetaraan, masuk sekolah umum tidak bisa.

MTs ke SMA tidak bisa, atau MA mau ke universitas umum tidak bisa.

Nanti hanya bisa ke IAIN atau UIN saja," kata Fikri di Kota Tegal, baru-baru ini.

Baca juga: Ada Permintaan Masyarakat, Dishub Cilacap Kaji Perluasan Penggunaan Bajaj di Wilayah Barat

Anggota DPR dari Fraksi PKS ini menjelaskan, rencana beleid ini berbeda dengan Sisdiknas pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, yang masih mencantumkan kata madrasah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved