Berita Ekonomi Bisnis

Cuaca Ekstrem Bikin Kelimpungan Petani Kentang di Dieng Banjarnegara, Tanaman Mudah Membusuk

Cuaca ekstrem saat ini menjadi ujian tersendiri bagi petani kentang di wilayah Dataran Tinggi Dieng. Tanaman bisa mudah membusuk.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
Petani di kawasan Dieng Desa Kepakisan Kecamatan Batur Banjarnegara sedang merawat tanaman kentang, belum lama ini. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Pasar komoditas kentang cukup bagus saat ini.

Di tingkat petani, harga kentang mencapai sekira Rp 10 ribu perkilogram. 

Petani kentang asal Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Edi mengatakan, harga kentang saat ini memang cukup baik. 

Baca juga: Dinkes Banjarnegara Wajibkan Orangtua Anak Usia 6-11 Dampingi saat Vaksinasi Covid, Ini Tujuannya

Baca juga: Warga Karangtengah Banjarnegara Tolak Proyek Panas Bumi Dieng: Bising dan Khawatir Cemari Mata Air

Baca juga: Diprotes Warga Karangtengah Banjarnegara, PT Geo Dipa Hentikan Sementara Proyek Panas Bumi Dieng

Baca juga: Saya Menyesal Karena Handphone Itu - Alasan WH Bunuh Sepupunya di Wanaraja Banjarnegara

Tetapi bukan berarti petani girang.

Cuaca ekstrem jadi kendala utama petani untuk bercocok tanam. 

Rupanya, tidak mudah menanam kentang di musim penghujan dengan curah hujan yang masih tinggi. 

"Penanganannya ekstra karena cuaca ekstrem," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (15/1/2022). 

Cuaca ekstrem menjadi ujian tersendiri bagi petani kentang di wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Tanaman lebih rentan terserang penyakit saat curah hujan tinggi. 

Edi mengatakan, jika penyakit itu menyerang, batang tanaman bisa membusuk sebelum panen (busuk batang). 

Konsekuensinya, petani harus lebih rajin menyemprot obat ke tanaman agar bisa tidak membusuk atau mati. 

"Ngobatnya harus rutin," katanya.

Dengan menyemprot obat lebih rutin, petani otomatis harus keluar modal lebih besar untuk usaha pertanian mereka. 

Jika tidak bisa mengatasi, petani bisa merugi karena tanaman membusuk. 

Masifnya penyakit ini, menurut dia, membuat produktivitas kentang saat ini menurun.

Hasil panen petani berkurang karena sebagian tanamannya busuk. 

Sebagian buah kentang juga terpaksa dipanen lebih dini karena batangnya sudah busuk. 

"Tidak sampai gagal panen."

"Hanya produktivitas berkurang, mungkin sampai 50 persen," katanya. (*)

Baca juga: Dua Pemancing Sudah Ditemukan Sabtu Pagi, Pasca Dinyatakan Hilang di Pantai Menganti Cilacap

Baca juga: Remaja 17 Tahun asal Cilacap Ditangkap Polisi Lagi, Kali Ini Curi Disel Air di Banyumas

Baca juga: Polisi Tangkap Residivis Pencuri Sapi di Banyumas, Satu Berstatus DPO, Begini Cara Mereka Beraksi

Baca juga: Bupati Husein Apresiasi Bakat Menggambar Anak-anak Banyumas: Jadi Ajang Mengekpresikan Suasana Hati

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved