Berita Kriminal Hari Ini

Sri Dewi Kini Sudah Bebas, Kasus Suami Pidanakan Istri Karena Palsukan Akta Jual Beli Kapal di Tegal

Suaminya melaporkan Dewi dengan laporan telah menempatkan keterangan palsu dalam akta autentik jual beli kapal.

TRIBUN BANYUMAS/FAJAR BAHRUDDIN ACHMAD
Sri Dewi (tengah), istri yang dipidanakan oleh mantan suaminya hari ini bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tegal, Selasa (28/12/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Sri Dewi (33), seorang istri di Kota Tegal yang dipidanakan oleh suaminya, bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tegal, Selasa (28/12/2021). 

Dewi dan suaminya adalah bos kapal di Tegalsari, Kota Tegal

Suaminya melaporkan Dewi dengan laporan telah menempatkan keterangan palsu dalam akta autentik jual beli kapal.

Baca juga: Libur Natal di Tegal, Wisatawan Serbu Pantai Alam Indah, Dua Hari Capai 2.500 Orang

Baca juga: Enam Pria Kepergok Pesta Miras di Kawasan PAI Kota Tegal, Mereka Warga Brebes

Baca juga: Jalingkut Brebes-Tegal Sudah Dibuka, Wisnu Herlambang: Sifatnya Sementara Selama Libur Nataru

Baca juga: Hasil Operasi Polres Tegal Kota Jelang Nataru - Sita 12.500 Petasan, 3.700 Miras, 15 Kg Obat Ilegal

Dewi dijerat Pasal 266 KUHP tentang Pemalsuan Dokumen dengan ancaman hukum maksimal 7 tahun. 

Tapi kemudian oleh Pengadilan Negeri Kelas IA Tegal, Dewi divonis bersalah dan dikenakan hukuman tiga bulan kurungan, pada Kamis (23/12/2021). 

Ditemui setelah bebas, Dewi mengatakan, dia tidak akan membalas dendam dengan melaporkan balik. 

Pria yang menuntutnya, kini telah berstatus sebagai mantan suami. 

Karena suaminya langsung menceraikannya setelah melaporkan kepada kepolisian. 

"Saya tidak ada niatan balas dendam."

"Ini saya jadikan pengalaman pahit dalam berumah tangga," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (28/12/2021). 

Kuasa hukum Sri Dewi, Binton Sianturi tidak menyangkal bahwa kliennya di pengadilan terbukti membuat keterangan palsu dalam akta autentik kapal. 

Tetapi, dia menilai dalam kasus tersebut ada diskriminasi hukum. 

Karena dalam kasus tersebut, kliennya membuat laporan palsu dalam akta jual beli kapal atas perintah suaminya atau pelapor. 

Seharusnya, menurut Binton, keterlibatan pelapor dalam pemalsuan akta tersebut sudah menghapuskan pidana. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved