Berita Jawa Tengah

Hadiri Kongres Syarikat Islam di Solo, Ganjar Ingatkan Tantangan Era Society 5.0, Begini Maksudnya

Ganjar mengingatkan bagaimana tantangan bisnis dan ekonomi pada era masyarakat 5.0 (society 5.0) yang akan datang.

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: deni setiawan
PEMPROV JATENG
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berpidato pembukaan Majlis Tahkim atau Kongres Nasional Syarikat Islam (SI) ke-41 di Hotel Novotel Surakarta, Jumat (3/12/2021) malam. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SURAKARTA - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bersama Menteri Agama Yaqut Qolil Qoumas dan sejumlah tokoh lainnya menghadiri pembukaan Majlis Tahkim atau Kongres Nasional Syarikat Islam (SI) ke-41 di Hotel Novotel Surakarta, Jumat (3/12/2021) malam.

Dalam kesempatan itu Ganjar mengingatkan bagaimana tantangan bisnis dan ekonomi pada era masyarakat 5.0 (society 5.0) yang akan datang.

Ganjar dalam sambutannya senang ketika mendengar SI akan menggelar kongres di Surakarta.

Baca juga: Kedatangan Dubes Ukraina Bikin Ganjar Terpana, Vasyl Bicara Seni Budaya Hingga Kisah Ronggowarsito

Baca juga: Suami Yamtini Meninggal Karena Covid - Menangis Lihat Kedua Anaknya Dapat Bantuan dari Ganjar

Baca juga: Rapat APESDMPI, Ganjar Soroti Perizinan Penambangan, Contoh Aktivitas di Lereng Gunung Merapi

Baca juga: Pemkot Bontang Belajar Penerapan Smart City di Semarang, Berikut Saran Gubernur Ganjar

Dia tidak menjelaskan bagaimana rasa senang itu bisa muncul, tetapi ia membayangkan adanya semangat baru yang lahir dari kongres tersebut.

Apalagi tema kembali ke Laweyan seakan membawa ingatan tentang bagaimana SI dibidani dan lahir di Surakarta, banyak pedagang batik besar lahir, sampai kemudian kelahiran tokoh-tokoh pemikir dan pergerakan dari Jawa Tengah.

"Jika boleh membandingkan, masa-masa itu (awal berdirinya SI) sama persis dengan saat ini."

"Yaitu masa penyiapan mental, pengetahuan, dan keberanian untuk memasuki society 5.0."

"Itu tantangan yang dihadapi sangat besar sekali," katanya.

Untuk menghadapi tantangan masa depan itu, Ganjar mengatakan bahwa industri batik yang ada harus masuk ke era 4.0.

Sementara komunitasnya harus bisa masuk society 5.0.

Persaingannya berat dan besar maka teknologi musti masuk, cara berdagang musti baru, dan desain musti mengajak lagi anak-anak muda, sehingga persaingan karya cipta dalam konteks batik berkembang pesat.

"Kepesatan itulah akhirnya bisa tampil gaya batik seperti yang saya pakai, Solo banget, atau yang dipakai Gus Menteri (Yaqut) Lasem banget."

"Itu sebenarnya pertunjukan karya dan produk budaya yang bagus sekali," kata Ganjar.

Lebih lanjut, Ganjar juga menekankan bagaimana target yang dimiliki SI untuk meningkatkan perekonomian kaum muslim.

Hal itu menjadi sangat kontekstual dan menjadi jawaban dari kebutuhan umat pada zaman sekarang.

Terlebih ketika SI mendeklarasikan kembali ke khittoh berdakwah melalui jalur perekonomian, tentunya dengan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.

"Jika itu semua itu bisa dilakukan, betapa dahsyatnya kelak pengaruh yang dilahirkan."

"Misal kelak SI mau mendampingi UMKM dimana small skill business ini menjadi idola dunia karena mereka cukup mandiri dalam berekonomi tinggal bagaimana fasilitas itu diberikan," katanya. (*)

Baca juga: Penginapan di Tawangmangu Karanganyar Penuh untuk Akhir Tahun, Ini Harapan Pengelola Soal PPKM

Baca juga: Perampok Satroni Petshop di Colomadu Karanganyar, Sempat Bekap Pegawai dan Todongkan Mirip Pistol

Baca juga: Jembatan Merah Putih Kebumen Diresmikan, Percepat Waktu Tempuh Warga Karanggayam ke Kota

Baca juga: 1 Januari Warga Kebumen Diminta Stay at Home, Pasar dan Tempat Wisata Tutup

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved