Berita Jawa Tengah

Sudah Terjadi 24 Kali Gempa Susulan, BMKG Sebut Gempa Salatiga Ambarawa Masuk Kategori Swarm

Menurut Kabid Mitigasi Bencana Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, gempa yang terjadi di wilayah tersebut termasuk dalam kategori aktivitas swarm.

Penulis: deni setiawan | Editor: deni setiawan
KOMPAS.com/Dian Ade Permana
Warga RT 05 RW 05 Pojoksari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang memasang tenda mengantisipasi adanya gempa susulan, Sabtu (23/10/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Setidaknya sudah 24 kali gempa susulan terjadi di wilayah Salatiga, Ambarawa Kabupaten Semarang, dan sekitarnya hingga Sabtu (23/10/2021) petang.

Catatan terakhir BMKG, gempa susulan itu terjadi pada pukul 21.11 dengan kekuatan 2,9 SR.

Menurut Kabid Mitigasi Bencana Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, gempa yang terjadi di wilayah tersebut termasuk dalam kategori aktivitas swarm.

Baca juga: Warga Ambarawa Semarang Pilih Dirikan Tenda, Gempa Susulan Terus Terjadi Hingga Petang Ini

Baca juga: 12 Pohon Tumbang di Kota Semarang, Dampak Hujan Disertai Angin Kencang Jumat Sore, Ini Datanya

Baca juga: 11 November 2021, Museum Jamu dan Research Center Sido Muncul Mulai Dibangun, Lokasinya di Semarang

Baca juga: Jumat Berkah Bagi Pemkot Semarang, Marimas Bantu Bikinkan Taman Parkour, Nilainya Rp 300 Juta

Swarm adalah serangkaian aktivitas gempa dengan magnitudo relatif kecil dan frekuensi kejadiannya sangat tinggi serta berlangsung dalam waktu yang relatif lama di wilayah sangat lokal.

"Jika gempa pada umumnya terjadi karena aktivitas tektonik, gempa swarm justru terjadi karena proses kegunungapian (vulkanik)."

"Gempa swarm dihasilkan karena aktivitas tektonik murni hanya sedikit," kata Daryono kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (23/10/2021).

Dia menjelaskan, gGempa swarm tidak hanya berkaitan dengan kawasan gunung api.

Beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivitas swarm juga dapat terjadi di kawasan non-vulkanik.

"Swarm juga dapat terjadi di kawasan dengan karakteristik batuan rapuh yang terbangun medan tegangan."

"Sehingga mudah terjadi retakan (fractures)," bebernya.

Fenomena gempa swarm, menurutnya, sudah terjadi beberapa kali di Indonesia.

Seperti terjadi di Klangon, Madiun, Jawa Timur pada Juni 2015.

Lalu di Halmahera Barat pada Desember 2015 dan Mamasa, Sulawesi Barat, pada November 2018.

"Aktivitas gempa swarm memang jarang terjadi."

"Jika kekuatan gempa swarm cukup signifikan dan guncangannya sering dirasakan, memang dapat meresahkan masyarakat."

"Namun, sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm tersebut memiliki struktur yang kuat," tukasnya. (*)

Baca juga: Pohon Albasia Tumbang di Rembang Purbalingga, Timpa Atap Rumah Warga, Sore Itu Sedang Hujan Deras

Baca juga: Bupati Purbalingga Ancang-ancang Rombak Pejabat Dinkominfo, Buntut Website Berisi Konten Judi Togel

Baca juga: Delapan Orang Terluka Tertimpa Longsor Susulan di Desa Biting Banjarnegara, Mereka Lagi Kerja Bakti

Baca juga: Haris Ditemukan Dua Kilometer dari Lokasi Awal Berenang, Insiden Maut Sungai Bermali Banjarnegara

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved