Breaking News:

Berita Purbalingga

Modal Telepon Pintar, Ibu-ibu Kampung Marketer Purbalingga Raup Penghasilan hingga Rp 16 Juta/Bulan

Kemajuan teknologi dan dunia digital mengubah kehidupan warga Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga.

Editor: rika irawati
KOMPAS.COM/MOHAMAD IQBAL FAHMI
Karyawan Kampung Marketer yang telah bertransformasi menjadi Komerce menjalankan tugas sebagai customer service (CS) online di kantor Komerce di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Rabu (18/8/2021). 

"Dulu, di Singapura, saya disuruh tidur di gudang. Sekarang, alhamdulillah, sudah bisa ngangsur rumah sendiri," katanya.

Serap angkatan kerja

Keberadaan Komerce di Desa Tunjungmuli kian hari kian menjadi magnet bagi para pencari lapangan kerja.

Sejak berdiri pada 2017, hingga kini, Komerce telah memayungi lebih dari 500 karyawan.

"Kami menyebut para karyawan di Komerce dengan istilah talent untuk menghargai bakat yang dimiliki setiap karyawan tanpa membeda-bedakan latar belakang pendidikan," kata public relation Komerce, Didi Setiadi.

Didi menjelaskan, sistem kerja Komerce adalah mempertemukan para talent dengan mitra bisnis pemilik toko online dan UMKM di penjuru Indonesia.

Ada tiga bidang jasa yang ditawarkan kepada mitra bisnis, yakni program advertiser, customer service (CS), dan admin marketplace.

Biaya yang dibanderol untuk masing-masing program mulai dari CS sebesar Rp 600.000, admin marketplace sebesar Rp 900.000, dan advertiser tarifnya tergantung paket.

"Tarif ini khusus untuk gaji pokok para talent. Di luar itu, ada juga tambahan biaya administrasi Rp 500 ribu setiap bulan," terangnya.

Didi mengungkapkan, Komerce sengaja menetapkan tarif yang terjangkau untuk membantu para pelaku bisnis online dan UMKM yang masih merintis usaha.

"Selain dapat gaji pokok, para talent juga akan mendapat bonus dari setiap produk yang terjual. Besarannya tergantung kesepakatan antara talent itu sendiri dengan pemilik toko online yang menjadi mitranya," jelasnya.

Hasil yang menggiurkan ini pun menarik minat bukan hanya dari warga setempat.

Satu di antara talent Komerce dari luar kota adalah Kiki Nur Anjali.

Dara berusia 20 tahun ini merantau dari Kabupaten Sragen dan menetap di Purbalingga untuk bergabung dengan Komerce sejak 2019.

Selama itu, Kiki mendapat mitra bisnis sebuah toko jam tangan dari Kota bandung.

"Sehari, saya bisa dapat 80 chat dari pelanggan. Kalau dihitung, setiap bulan bisa jualan sekitar 400 item, bonus untuk jual satu item Rp 5.000," terangnya.

Peribahasa "tambah air, tambah sagu" rasa-rasanya sangat cocok untuk manggambarkan sistem kerja di Komerce.

Semakin banyak produk dari mitra yang terjual, semakin banyak pula bonus yang didapat oleh para talent.

"Kalau saya paling ramai pernah dapat Rp 3,5 juta. Tapi, ada teman di CS dulu pernah dapat bonus sampai Rp 16 juta," ujarnya.

Sang perintis

Melihat pesatnya tumbuh kembang Kampung Marketer hingga bertransformasi menjadi Komerce, tentu tidak terlepas dari sosok sang perintis.

Dia adalah Nofi Bayu Darmawan, mantan pegawai Kementerian Keuangan, jebolan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang memilih resign demi fokus memulai gerakan ini pada 2017.

Spekulasi besar diambil Nofi bukan tanpa pertimbangan matang.

Baca juga: Tempat Karaoke Gambilangu Kendal Masih Beroperasi saat PPKM, Tamu dan Pemandu Lagu Dites Antigen

Baca juga: Pengganti KGPAA Mangkunegara IX Belum Diputuskan, Tunggu setelah 100 Hari

Baca juga: Semarang Zoo Andalkan Simpanan untuk Biaya Pakan Satwa Koleksi, Sebulan Capai 180 Juta

Baca juga: Truk Bermuatan Kaca dan Kayu Tabrakan di Jalur Kertek Wonosobo, Gapura Desa Ikut Hancur

Bayangkan saja, untuk mundur sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dia harus membayar denda penalti sekaligus kehilangan segala fasilitas dari negara.

"Tapi, dengan bisnis online ini, gaji yang dulu saya terima setiap bulan dari PNS bisa saya dapat cuma dalam waktu satu hari," katanya kepada Kompas.com, Kamis (19/8/2021).

Keberhasilan Nofi membangun Komerce untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya tentu tidak serta-merta terjadi begitu saja.

Pencapaian ini sebanding dengan tantangan yang dihadapi Nofi selama mengawali gerakan Kampung Marketer.

Tantangan pertama yang pasti dihadapi adalah sarana internet.

Berbeda saat tinggal di Jakarta, sinyal internet bagai makhluk asing yang jarang sekali ditemui di desanya.

Hal itu tidak terlepas dari letak geografis Desa Tunjungmuli yang berada di pelosok kaki Gunung Slamet.

"Dulu, awalnya, sempat bekerja sama dengan provider lokal sampai harus bangun tower segala untuk pemancar sinyal," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang melek internet, hingga akhirnya provider pelat merah membuka jaringan di sana.

Tantangan kedua, lanjut Nofi, adalah edukasi warga lokal.

Tingkat pendidikan yang rendah membuat warga lokal sangat sulit menerima buah pemikiran cemerlang Nofi.

"Dulu, susah banget cari talent untuk karyawan, sampai saya harus gerilya bagi-bagi selebaran di warung-warung. Mulai ramai pelamar justru setelah mereka tahu dari mulut ke mulut," katanya.

Segala keringat dan darah Nofi kini tunai sudah.

Komerce yang dia rintis berhasil mengubah wajah kampung halaman yang dulu tertinggal menjadi kampung inspiratif hingga memiliki 22 kantor dan membuka cabang di Yogyakarta.

Sesuai nama startup yang dia bangun, Komerce, ke depan, akan menjadi wadah kolaborasi antar pelaku ecommerce.

Melalui sejumlah aplikasi yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, Komerce akan semakin melejit dan menebar kemanfaatan sosial dalam lingkup yang lebih luas. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejak Internet Masuk ke Desanya, Ratusan Ibu Kampung Marketer Raup Jutaan Rupiah Tiap Bulan".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved